0

Surat Pribadi #2

Jakarta, 23 November 2012

hai aku, apa kabarmu hari ini?
kau jauh terlihat lebih murung dibandingkan minggu lalu, saat aku memberikan surat pertamaku.
ada apa denganmu?
ayolah, baru seminggu yang lalu kau pergi berlibur dan sekarang kau sudah tak bersemangat lagi?
lihatlah teman-temanmu,
semuanya memikirkanmu,
mereka takut terjadi ada apa-apa denganmu,
mereka mempertanyakan kenapa 'tandukmu' muncul,
ada apa denganmu sebenarnya?
"kamu disini tidak sendirian, ada teman-temanmu. kalau kau ada masalah, selalu ada orang yang akan setia mendengar ceritamu"
kau tak kasihan dengan orang yang mengucapkan itu padamu.
kasihan? lantas mengapa kau masih menunjukkan muka menyeramkanmu?
apa yang sebenarnya terjadi?
kau tidak sedang marah dengan seseorang bukan?
"tidak", katamu? lantas kenapa?
kau merindukan orang tuamu? ingin pulang?
hah, sepertinya masalahmu tak jauh-jauh dari itu.
dulu kau sering begitu bukan? murung dengan tiba-tiba dan membuat orang ketakutan oleh raut mukamu.
apa yang memicumu bertingkah laku seperti itu?
apa kau tak kasihan dengan teman-temanmu?
0

Makalah Korupsi

Aku tengah menanti hari. 8 Desember 2012. Hari yang ku nanti. Bukan hanya karena sebuah janji  akan menjadi sebuah kenyataan, namun juga sebuah pengumuman yang akan membawa kebahagian. Ya, aku tengah menunggu pengumuman. Walau, aku tidak terlalu mengharapkan kebahagian yang dibawa pengumuman ini.
Sejak blog ini dibuat, Oktober 2010, baru pertama kali ini aku mengikuti Blog Competition. Selalu saja ada alasan untuk tidak mencoba ajang semacam itu. Sebenarnya, semenjak SMA aku sudah mulai mencari lomba-lomba menulis, namun, belum pernah satu pun aku mengikutinya. Hingga aku saat ini. Untuk pertama kalinya, aku mencoba.
Lomba Blog KPK. Sebelumnya aku sudah menemukan lomba ini beberapa saat sebelum aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku tak tertarik. Bagaimana mungkin aku kepikiran menjadi seorang Ketua KPK. Siapa lah aku? Bisa apa aku? Aku pun berlanjut searching, mencari lomba yang bisa diikuti. Tak ada yang menarik.
Hingga tibalah hari itu, hari dimana aku memasukkan tulisanku ini ke situs Lomba Blog KPK. Apa yang menginspirasiku sehingga aku dengan lancar mengetikkan kata demi kata menulis kalimat demi demi kalimat hingga tercipta karangan Andai Aku Menjadi Ketua KPK ? Tak lain adalah karena tugas Kewarganegaraan yang diberikan sang dosen untuk membuat makalah yang mengupas salah satu kasus korupsi di Indonesia. Seiring mengerjakan tugas tersebut, aku melihat kenyataan betapa parahnya kasus korupsi di Indonesia, berapa banyak uang yang masuk ke kantong-kantong orang berduit itu. Dan karangan Andai Aku Menjadi Ketua KPK itu mengalir begitu saja sejalan dengan rasa kesalku dengan para koruptor yang mengambil jatah rakyat tersebut. Walau tak begitu bagus, aku harap karangan tersebut bisa menginspirasi bagi pihak lain. Dan bagi teman-teman yang membutuhkan makalah tentang Kasus Korupsi di Indonesia bisa dilihat disini. Semoga kasus korupsi di Indonesia bisa segera di berantas.
0

Dia yang Dahulu

Malam ini aku mengingat dia. Dia yang dahulu, yang saat ini mulai tak nampakkan diri dalam kehidupanku. Sejenak auranya muncul di hadapanku, menghiasi malamku dan membuatku ketakutan. Dia yang mengingatkanku padanya. Walau berbeda, siluet wajahnya menyerupainya. Badannya yang tinggi dengan latar belakang yang sama. Dan saat ini, aku ketakutan karenanya.
Sudah lama aku tak menceritakan tentang dia. Bahkan tak ingin lagi membicarakannya. Walaupun sempat timbul dan tenggelam, aku tetap tak tergoda untuk memandangnya. Biarlah dia melakukan apa saja yang dia suka dan aku tetap melakukan apa yang dari dulu aku lakukan.
Mungkin banyak orang yang punya pemikiran negatif tentangku. Tentang aku yang tetap melakukan apa yang dari dulu aku lakukan. Tak mengapa karena sejatinya mereka memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Andai saja mereka tahu apa yang aku rasakan saat ini, aku merasa takut.
Dia lah yang membuatku merasa ketakutan, takut kepada dirinya. Aku pun tak tahu mengapa aku bisa sebegitu takutnya. Tak hanya kepada dirinya, namun juga kepada yang lainnya. Imbasnya aku terlihat menjadi sosok yang kejam dan sadis.

Komponen 31


Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

27 September 2010. Hari pertama perkuliahan. Perkuliahan yang menyenangkan. Menyenangkan dipertemukan dalam satu kelas. Kelas penuh kehangatan. Kehangatan untuk suatu kebersamaan yang baru dan utuh. Utuh bertiga puluh satu.
Mata itu saling melirik. Menatap malu-malu, tak banyak percakapan. Senyum tipis menggantikan. Nama bukan hal yang baru, namun wajah masih begitu asing. Bukan pertama kali bertemu, namun bertemu untuk menjalin sebuah keluarga.
Seiring berjalannya waktu, suara-suara itu mulai terdengar. Mata-mata itu mulai tajam menatap. Suasana berubah menjadi hangat. Satu sama lain saling menyapa. Senyum itu berganti dengan tawa ceria.
Inilah kita, mahasiswa program studi MI Polman Astra angkatan 2010. Aku lebih suka menyebutnya Komponen 31.
19 November 2012. Tak terasa dua tahun sudah terlewati. Empat semester terlampaui dengan hebat. Saat ini kita berada di minggu terakhir semester 5. Semester terakhir kebersamaan kita. Semester 6 kita akan tercerai berai menuju ruang masing-masing. Awal suatu perpisahaan, namun kebersamaan akan selalu bersemayam dalam hati kita masing-masing.
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Komponen 31 berjumlah tiga puluh satu di awal perjumpaan. Walau kini komponen ini tak lagi genap bertiga puluh satu, banyak cerita yang tertoreh dari awal kita bersua, perpisahan dengan salah satu komponen, melanjutkan kehidupan bersama tiga puluh komponen.
Waktu berlalu begitu saja. Dalam dua tahun kebersamaan ini, puluhan cerita tercipta. Banyak moment berharga terlewati bersama. Sungguh indah nan mengesankan.
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Canda tawa itu begitu menghibur. Suara-suara itu, teriakan-teriakan itu, gerak-gerik itu. Sungguh, punya arti dalam keseharian kita. Kesedihan itu sedikit demi sedikit pupus saat kita bersama. Walau ada saatnya, dalam kebersamaan kita kesedihan itu perlahan muncul. Namun, tak bertahan lama karena kita kembali dipersatukan dalam gelak tawa yang luar biasa.
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa
Banyak kisah yang terjadi di antara kita. Ceritaku dengan dia. Ceritaku dengan dia yang lain. Ceritaku dengan komponen 31. Ada saatnya aku tertawa bersama kalian. Ada kalanya kalian yang membuat ku (dan yang lain) menangis. Karena kalian adalah bagian dari komponen 31;
0

Surat Pribadi #1

Jakarta, 16 November 2012

Hai,aku.
Apa kabarmu saat ini?
Kau terlihat sedih, murung, dan tak bersemangat.
Ada apa denganmu?
Apakah masalah klasik sedang melandamu?
Sepertinya, iya.
Kau butuh menangis?
Ayolah, akhir pekan ini kau akan berlibur.
Jangan sampai kau gunakan waktumu dengan sia-sia.
Ini waktu yang berharga bagimu.
Gunakan kesempatanmu.
Tetaplah tersenyum.
Tunda air matamu. Bendunglah. Tahan,
Bertahanlah.
Kau pasti bisa. Apa sih yang tidak bisa kau lakukan?
Kau gadis yang hebat. Kau gadis yang kuat.
Kau selalu bisa berdiri di tengah derasnnya hujan badai.

0

GR #1

02:01 am, Mon 06-02-2012
Terima kasih telah menemani pagi ini
Pagi yang hebat, Kawan
Ketika senyummu datang bak mentari,
mulai muncul perlihatkan sinarnya

Panggilan itu,
aku suka panggilan itu keluar dari mulutmu
Tak pernah sedetik pun aku tahu kau sebut namaku
Atau sejatinya kau tak tahu siapa aku

11:01 pm, Mon 12-11-2012
Kau berhasil menohok jantungku
Membuatku terdiam dan terpaku
Hanya bayangmu yang melintas membisu
Sesak ku memikirkanmu

Ilusi,
aku terjebak dalam sebuah ilusi
Ilusi yang ku ciptakan sendiri
Hingga ku tenggelam ikuti alur ini
2

Guruku, Pahlawanku


Telah gugur Pahlawanku, Tunai sudah janji bhakti..
Gugur satu tumbuh sribu, Tanah air jaya sakti ..
Sepertinya lagu itu begitu tepat dinyanyikan hari ini, 10 November. Hari yang diperingati sebagai Hari Pahlawan ini dipersembahkan bagi para pahlawan bangsa, bagi mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia. Itu dulu saat para penjajah mengancam negeri ini, merampas kebahagiaan serta kebebasan Negara. Namun, saat ini, pahlawan bukan lagi mereka yang berperang melawan penjajah. Kini, pahlawan memiliki arti yang luas. Seorang ayah yang bekerja keras demi menafkahi istri dan anaknya bisa dikatakan pahlawan. Seorang ibu yang siang malam melayani suaminya, membimbing anak-anaknya menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa, juga bisa disebut sebagai pahlawan.
Akan tetapi, dari sekian pahlawan yang ada di sekitar kita, ada satu pahlawan yang patut kita acungi jempol. Siapakah mereka? Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Siapa lagi kalau bukan guru-guru kita.
Bapak Ibu guruku, kalian pahlawanku. Kalian tak hanya mengajariku membaca dan menulis. Namun, kalian ajari aku bagaimana seharusnya aku. Kalian mengajarkan tentang kehidupan, mendidikku agar menjadi pribadi yang baik, menjadi warga Negara yang membawa perbaikan bagi bangsa Indonesia.
Aku sungguh beruntung, teramat beruntung. Aku dilahirkan di keluarga pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa. Kakekku, ayahku, dan ibuku. Aku sungguh takzim mendengar cerita-cerita hebat mereka dalam memberantas kebodohan, terutama cerita ibuku.
0

Kamu,,


Aku melihatmu, berjalan gontai, sendirian. Kau begitu ceria, tak pernah nampakkan kesedihanmu. Riang, itulah dirimu. Aku sama sepertimu, sendiri. Bedanya, aku tak seceria dirimu. Tapi, inilah diriku.
Kita dipertemukan oleh waktu. Waktu yang menentukan kapan dan dimana kita berjumpa. Aku disini dan kau disana, namun kita dipertemukan di tempat ini, memulai hari-hari bersama. Persahabatan ini pun dimulai. Ya. Aku dan kamu berteman.
Hari demi hari aku mulai mengenalmu. Ku temukan persamaan antara ku denganmu. Di balik tingkah lakumu, ada sifat tersembunyi yang ku rasa mirip denganku. Itulah yang membuatku berpikir, mungkin kau bisa jadi sahabat terbaikku. Kau sosok yang luar biasa, walau sebenarnya ada bagian darimu yang rapuh. Begitu pula denganku. Aku terlihat tegar tanpa masalah, walau sebenarnya masalah selalu menderaku. Aku ingin kita berbagi cerita denganmu, agar kita bisa saling menguatkan.
Aku menanti waktu yang tepat. Biarlah waktu yang mengatur kapan dan dimananya. Sayangnya, waktu yang ku nanti tak pernah datang. Hingga ku harus jalani hari seperti biasanya.
2

Andai Aku Menjadi Ketua KPK


Korupsi itu seperti jamur di musim penghujan. Banyak, dimana-mana, susah untuk dimusnahkan hingga tak bersisa satu pun. Bukan hal yang mudah untuk membasmi hingga ke akar-akarnya. Begitu pula dengan korupsi. Terlalu banyak kasus korupsi di negeri ini membuat aparatur negara tak kuasa tuk mengatasinya. Apalagi puluhan hingga ratusan koruptor mulai dari kelas teri hingga kelas kakap membuat masyarakat gerah, mempertanyakan hukum di Indonesia, dimanakah para pemberantas korupsi?
KPK atau Komisi Pemberantas Korupsi merupakan badan yang dibentuk Negara untuk menyelidiki adanya sindikat yang mengarah ke kasus korupsi. Adanya badan negara seperti KPK merupakan wujud nyata dari usaha pemberantasan korupsi di Indonesia.
Organisasi yang bagus tak akan berjalan lancar tanpa adanya seorang pemimpin yang tegas. Demikian pula dengan KPK. KPK membutuhkan pemimpin yang cakap, tak hanya menyelesaikan kasus korupsi yang ada, namun membuat jera para koruptor dan menjadikan Negara ini terbebas dari kasus yang memangkas uang rakyat itu.
Andai aku menjadi ketua KPK. Andai aku menjadi orang nomor satu di komisi pemberantas korupsi itu, aku pasti punya banyak wewenang, otoritas, dan cara tersendiri, bagaimana aku menyelesaikan masalah itu.
Hal pertama yang aku lakukan yaitu membangun hubungan baik. Dengan siapa? Untuk apa? Tentu saja aku akan membangun hubungan yang baik dengan bawahanku, menjadi pemimpin yang bisa jadi panutan, bermitra baik dengan mereka. Hal ini penting agar ke depannya tidak ada pengkhianat, musuh dalam selimut. Selain itu, kerjasama yang baik tidak hanya berlaku di internal di KPK, namun juga eksternal, menjalin hubungan baik dengan aparatur negara yang lain. Jangan sampai pertengkaran antara KPK dengan aparatur negara menjadi lebih penting dibandingkan memberantas kasus korupsi itu sendiri. Kalau mereka terbukti ikut/tergabung dalam sindikat itu, maka tak tak perlu menunggu waktu lama lagi untuk segera memasukkannya ke dalam Corruptor List. Tak perlu ragu dalam membela kebenaran. Aku takkan takut dan gentar. Ini demi negaraku, aku cinta tanah airku. Aku ingin seperti Superman. Apakah ia ragu membela kebenaran? Apakah ia gentar menghadapi musuh-musuhnya? Tidak. Ia bahkan tidak takut saat orang-orang menghinanya, memperolok-oloknya karena tampilannya yang tak wajar. Tapi, apa yang dipikirkannya? Penampilan bukanlah segalanya, namun aksi-lah yang dibutuhkan. Demikian pula aku, seorang gadis kecil dari desa, yang tak akan takut berjuang untuk negaranya, memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Namun, aku tak bisa berjalan sendiri. Aku butuh bala tentara yang banyak, itulah mengapa menjalin hubungan baik ini begitu penting. Semakin banyak orang yang berpihak pada kita, semakin kuat kita menghadapi segala sesuatunya.
0

Aku Merindukanmu :')

Sore ini ada  yang aneh dengan handphoneku. Gambar message tanda SMS masuk itu kelap-kelip, tak diam seperti biasanya. Ada apa gerangan? Mungkin memori HPku sudah terlalu penuh. Tidak.  HP ini masih bisa untuk menampung seribu SMS. Tidak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul. Rupanya, kakakku sedang mengirim MMS (Multimedia Messaging Service). Ada apa? Bukannya selama ini ia jarang menghubungiku. Apa yang sedang ia kirimkan untukku?
Penasaran. Sayangnya, rasa penasaran itu masih saja menggelayut karena MMS yang kakakku kirimkan gagal untukku terima. Tak apalah. Jika penting, dia pasti mengirimnya lagi, pikirku.
Hingga malam menjelang. Gambar message itu tak lagi kelap-kelip. Tak muncul malah. Namun, sebuah SMS dari MMSC itu mengisi Inbox-ku, menjadi bagian dari SMS-SMS yang lain. Isi pesan itu adalah sebuah link. Aku pun membukanya dan lihatlah apa yang ku dapatkan,

Adikku :')
Oh, rupanya foto adikku. Tak biasanya, ia mengirimkan fotonya lewat HP kakakku. Sebelumnya, ia juga mengirimkan fotonya bersama sepeda barunya atau foto Ninis, kucing keluarga kami yang sekarang entah ada dimana dan tak diketahui lagi kabarnya. Semua foto-foto itu ia kirim lewat HP ibuku. Kecanggihan teknologi membuat kita dekat walaupun jarak ribuan kilometer memisahkan kita.
Sekarang, tak penting lagi foto itu dikirim lewat HP kakakku atau HP ibuku. Perhatianku lebih tertuju pada foto itu. Ya, itu foto adikku yang sekarang duduk di bangku tertinggi Sekolah Dasar. Ia tengah memamerkan egrang-nya. Aku tak tahu apa motivasi dia memainkan egrang itu.
Hei, kalian tahu apa itu egrang bukan? 
2

Satu bulan lagi..


KITA SELALU BERSEPULUH KARENA KITA SATU
by Zaitun Hakimiah on Wednesday, December 8, 2010 at 7:11pm ·

Sungguh betapa sombongnya manusia. Sebelum mereka sadar akan kesalahannya sendiri pastilah Tuhan sudah menegurnya. Dan mungkin begitulah yang terjadi dengan kita. Hari ini kita benar-benar diberi peringatan dari Alloh SWT. Pembahasan sekilas tentang UTS Orkom benar-benar menyadarkan kita, menyadarkan betapa susahnya kita mencari nilai “B”. Kini bukan saatnya lagi kita bersantai-santai lagi, Kawan.
Beruntungnya kita masih bisa diberi peringatan dari-Nya. Dan karena peringatan itulah kita dipertemukan berSEPULUH di lantai 6 gedung C Politeknik Manufaktur Astra, 08 Desember 2010. Bukan untuk belajar bersama, namun sekedar sharing mengevaluasi apa yang telah kita lakukan selama kita kuliah di Polman. Dan sore ini pun kita berjanji “KITA SELALU BERSEPULUH KARENA KITA SATU”. Jarang sekali kita bisa berkumpul bersama seperti itu dan mengungkapkan hal yang sungguh tak terduga. Sungguh di balik kalian yang terlihat selama ini tersimpan sejuta cerita yang menakjubkan. Mungkin belum semua dari kita mencurahkan apa yang ada sebenarnya di diri kita. Yakinlah hanya butuh waktu. Yang terpenting saat ini adalah sifat KEPERCAYAAN untuk sebuah KETERBUKAAN. Terbuka untuk dimintai bantuan, terbuka untuk diberi masukan&kritikan, dan terbuka untuk menerima siapa sebenarnya kita.
Bukankah begitu Kawan?
Ku harap dan ku selalu berdoa untuk keber-sepuluh-an kita. Tiga tahun pasti bisa kita lalui bersama dengan tetap menjaga komitmen yang kita buat hari. Berpegang teguh pada visi dan menjalankan semua misi yang belum sempat kita buat.
Mulai hari ini mari kita hilangkan rasa “sungkan” kita, sungkan bertanya, sungkan bercerita, dan segala ke-sungkan-an kita. Kita dipertemukan untuk menjadi saudara, bukan untuk menjadi individu-individu yang hidup tanpa memikirkan orang-orang di samping kita.
Ingat hari ini, Boii...
Sampai jumpa 08 Desember 2012 d itempat yang sama dan tentunya ber-SEPULUH....

10=1?? ya..!!!


Aku me-repost  note tertanggal 08 Desember 2010 itu. Tak terasa, sebulan lagi momen itu akan terulang.  Janji untuk berkumpul di tempat yang sama, lantai 6 gedung C Politeknik Manufaktur Astra, tanggal 08 Desember 2012 akan segera terlaksana. Dan janji untuk keber-SEPULUH-an kita terwujud. Kita telah berhasil melewati dua tahun penuh lika liku, Kawan. Kita berhasil. Itu semua berkat kebersamaan kita.
Terima kasih atas kerja sama yang baik. Terima kasih atas kebersamaan kita.
3

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu


Diar terbaring dengan muka bersimbah darah. Bukan hanya muka, tapi sekujur tubuh. Tubuh itu remuk tak-bersisa. Muka lebam, tangan patah, kaki patah. Juga bengkak oleh bekas gebukan, injakan, dan entahlah. Sisa rusuh sepanjang siang tadi di toilet terminal.
Aku terdiam lama. Perlahan air mata mengalir membasahi pipi. Panas. Sesak. Ku atur nafasku, mencoba tak mengeluarkan suara yang bisa memecah heningnya malam. Aku tetap terdiam, meski air mata ini tak terbendung tuk mengalir. Malam ini aku menangis.
Novel pengingat :')
Aku mengingatmu, sempurna mengingatmu. Sepotong paragraf itu benar-benar mengingatkanku padamu. Novel itu menjadi pengingatku akan dirimu.
Aku mengingatmu. Aku ingat betapa ingatnya dirimu saat menangis membaca satu dari puluhan paragraf di novel itu. Dan kini aku menangis di paragraf yang sama denganmu. Bukan hanya karena larut dalam ceritanya, namun aku juga larut dengan ceritaku, cerita saat bersamamu.
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Itulah judul novel itu. Sebuah novel karya Tere Liye yang menjadi novel favoritku. Dan kini, setelah aku membacanya kembali, novel itu tak hanya apik ceritanya, namun juga menjadi bagian dari ceritaku. Cerita saat aku pernah menjadi bagian kecil dalam hidupmu.
Melalui novel itu, aku mengingatmu. Ingat bagaimana kita berpisah, ingat bagaimana kita harus memulai kehidupan tanpa kebersamaan. Kebersamaan yang terjalin belum lama itu harus terpisah. Kita tak bisa bersama-sama lagi. Akulah orang yang mengantarmu dalam perpisahan ini. Aku bersama dia. Dia yang menjadi sebab mengapa kita berpisah.
Senyumku mengembang walau air mata tak kuasa ku tahan. Aku menangis dalam tawaku. Melambaikan tangan simbol perpisahan walau sejatinya kita tidak berpisah. Di saat itulah dia meyakinkanku. Dia yang menjadi sebab perpisahan ini menjelaskan dengan baik hubungan sebab-akibat itu, seperti yang ingin disampaikan Tere Liye dalam novelnya.
Hubungan sebab-akibat?
0

Ia (kamu) Pasti Bisa

Aku tersenyum, mendengarkan seksama saat ia bercerita. Senyumku bukan senyum lega, tentu saja bukan senyum bahagia. Lihatlah ia sekarang! Bercerita dengan nada yang tak biasa. Ceritanya pun bak kereta yang sedang melaju kencang, susah dikendalikan untuk berhenti sesaat. Aku tersenyum datar, seolah senyumku ingin menyampaikan sesuatu.
Inilah kehidupan, Kawan. Terkadang kau merasa bahagia saat roda kehidupanmu berada di atas. Namun, jangan pernah lupa jika roda itu berputar. Pasti ada saatnya kita berada di bawah.
Ia sedang bercerita bagaimana dia memperlakukan ia  beberapa menit yang lalu. Percakapan mereka berdua cukup membuat sebagian dari kami menengok ke arah mereka. Aku yang tak tahu menahu arah pembicaraan mereka, sepertinya bisa menerka apa yang tengah terjadi. Namun, demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan, aku hanya diam. Diam menanti ia bercerita di saat yang tepat. Kini dia sudah tak ada disini, meninggalkan ia dan kami.
Aku turut mendengarkan, tidak terlalu banyak berkomentar. Apa yang dulu aku sampaikan kepadanya, kini ia merasakannya sendiri. Aku mencoba mengembalikan apa yang pernah ia ucapkan padaku. Kata-katanya yang bijaksana lagi dewasa, membuatku bisa melaluinya. Dan kini, aku pun percaya ia akan mudah tuk melaluinya, jauh lebih baik daripada aku yang dulu.
Selalu semangat, Kawan. Aku pernah merasakan apa yang saat ini kau rasakan. Bedanya, mulut ini selalu membungkam, tak banyak bicara. Berbeda denganmu yang mampu keluarkan semua rasa. Tapi, ku harap, cukup hari ini kau lakukan itu. Selanjutnya, buktikanlah padaku, buktikanlah pada mereka, dan buktikanlah pada dirimu sendiri bahwasanya kamu bisa melaluinya dengan mudah, tak peduli dia siapa, dia bagaimana, tapi kamu pasti bisa bekerja sama dengannya. Tunjukkan padaku bahwa kau bisa. Kau pasti bisa melewati semua ini dengan baik.

Teruntuk temanku,
Dari sahabatmu,
6 November 2012,
7:54 PM
K-4, IM
0

Aku dan Sirsak

Buah Sirsak
Aku penyuka buah sirsak, kalau orang-orang di desaku menyebutnya 'nangka sabrang'. Aku lupa kapan pertama kalinya aku makan buah berduri itu. Aku juga lupa mengapa dulu aku bisa menyukai buah itu, bahkan aku menobatkannya sebagai buah kesukaanku.
Aku punya teman kecil bernama Estri. Di samping rumahnya tumbuh satu pohon buah sirsak. Saat aku main ke rumah temanku, aku mengamati pohon itu. Bagaimana bentuk daunnya dan bunganya. Saking senangnya dengan buah sirsak, aku selalu mengamati perkembangan buah sirsak milik temanku itu. Ingin rasanya aku memetiknya saat masak. Namun, aku segera sadar, itu bukan punyaku.
Aku senang sekali saat ibuku pulang kerja membawa buah tangan, apalagi kalau itu buah sirsak. Walaupun sebenarnya ibuku jarang sekali membeli buah sirsak. Ibuku hanya membeli buah tersebut saat kasihan pada si penjualnya atau saat aku memintanya.
Buah sirsak oleh-oleh ibu, aku letakkan di piring. Ku ambil pisau dan ku belah buah sirsak itu. Putih daging buahnya membuatku meneteskan air liur, tak sabar mencicipinya. Ku ambil satu bagian dan hmmm...asam manis menyegarkan.
Itu ceritaku saat aku kecil. Semakin aku beranjak remaja, buah sirsak itu sedikit terlupakan. Mungkin karena banyaknya buah-buah lain yang beraneka ragam mulai bermunculan. 
Namun, saat aku memasuki SMA, lebih tepatnya kelas XII, kenanganku dengan buah sirsak kembali. Mengapa? karena saat aku melihat ke arah jendela, aku menemukan pohon buah sirsak. Pohon itu tumbuh di seberang pagar yang menghadap jendelaku. Walaupun terhadang pagar, aku masih bisa melihatnya. Daunnya dan tentu saja buahnya.
Aku menceritakannya ke Dhita, ia teman sebangkuku. Kami berdua mengamati buah sirsak yang dari hari ke hari semakin besar dan masak. Tapi, lihatlah. Saat ada guru di kelas kami, terlihat tangan-tangan usil yang sedang berusaha memetik buah sirsak yang sudah masak. Aku sedih. 
Di lain hari, saat istirahat tiba, aku mendapati mereka, pemilik tangan usil yang kini masih berusaha memetik buah sirsak yang lain. 
Begitu sukanya dengan buah sirsak, saat psikotes dan disuruh menggambar pohon berbatang, aku menggambar pohon sirsak, dengan sesekali melihat ke arah jendela, memandangi pohon sirsak yang tak tersisa buahnya.
&&&
Powered by Blogger.
Back to Top