0

Sukses & Usaha

apa yang kamu dapatkan akan berbanding lurus dengan apa yang kamu usahakan, oleh karena itu, jangan pernah merasa iri jika apa yang kamu dapatkan lebih sedikit daripada yang orang lain dapatkan, karena boleh jadi orang itu usahanya lebih besar dari apa yang kamu usahakan..
Ungkapan itu merupakan tamparan keras bagi diriku sendiri, dan mungkin bagi kalian yang terkadang, bahkan sering iri ketika melihat orang lain yang lebih sukses dibanding kita. Bahkan kita cenderung mempertanyakan dan berprasangka buruk tentang kesuksesan yang diraih rekan kita.
Ketika teman yang kita anggap biasa saja atau ‘bodoh’ justru diterima di Perguruan Tinggi terbaik di kota ini, kita mempertanyakan, “Kok bisa sih? Padahal saat SMA dia nggak pintar-pintar banget, biasa aja malah!?”
Ketika nilai ulangan dibagikan, nilai teman yang beberapa kali melirik ke lembar jawab kita nyatanya lebih tinggi dari nilai kita. Kita pun lagi-lagi mempertanyakan, “Kok nilai dia lebih tinggi sih? Padahal dia pas ulangan lihat jawabanku terus.”
Oh, kita memang tak pernah rahasia Ilahi secuil pun, bahkan untuk hal sepele seperti ini. Kita hanya menilai dari apa yang kita lihat, bukan dari apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika teman yang kita anggap biasa saja tapi bisa lolos dan diterima di Perguruan Tinggi terbaik, apakah kita tahu apa yang telah ia lakukan? Siapa yang tahu kalau di sepertiga malam ia bersujud, memohon kemudahan jalan untuk diterima di Perguruan Tinggi favoritnya. Siapa yang tahu jika tiap malamnya ia lebih memilih mengerjakan soal-soal latihan masuk Perguruan Tinggi dibanding menyiapkan pelajaran yang akan dibahas esok hari.
Dan ketika teman yang melirik jawaban kita saat ulangan nyatanya ia mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari kita. Oh, Kawan, mungkin saja dia hanya kurang percaya diri dengan jawabannya sendiri. Padahal boleh jadi, dia semalaman belajar, mempersiapkan dengan baik materi ulangan. Sementara kita, belajar serampangan, sekenanya. Apakah kita tahu itu semua?
Ah, harusnya ini hal yang mudah untuk dipahami. Pastilah ada doa dan usaha lebih yang mengiringi sebuah kesuksesan. Tidak ada kebetulan di dunia ini. Kalaupun ada, pasti hanya satu dua kali kita merasakannya, bukan berulang-ulang dan kita selalu mengharapkan kedatangannya tanpa usaha yang pasti.

Begitu pula denganku saat ini. Dulu, saat SMA, jika nilai-nilaiku dikonversi ke dalam penilaian seperti saat kuliah, maka 85% rapotku dipenuhi huruf A. Hanya pelajaran-pelajaran tertentu seperti Penjasorkes, yang membuat nilaiku terlihat lebih bervariasi. Namun sekarang, keadaan seakan terbalik, walau tak sepenuhnya terbalik. Kini aku begitu bebal. Sering aku merasa iri saat pembagian KHS, melihat IP dan nilai-nilai per mata kuliah. Mengapa aku dapat B sementara dia dapat A? Mengapa aku dapat C sementara dia dapat A?
Huh. Seharusnya aku cepat tanggap, sadar diri. Usahaku tak lebih besar dari dia, dari mereka. Di saat mereka sibuk googling mencari referensi untuk mengerjakan tugas, aku justru larut dalam blogging, facebook, atau justru melakukan hal-hal yang tidak jelas.
Mengapa dulu aku bisa? Mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan dan membuat bangga orang tua. Aku melihat aku jaman dulu. Ku gunakan waktuku dengan baik. Malam tanpa buku bukanlah aku. Di tengah hingar bingarnya suara televisi yang menyala, buku-buku itu terbuka. Ku kerjakan PR atau sekedar soal latihan. Pagi hari, di tengah kantuk yang menggeliuti, buku itu tetap terbuka. Nilai-nilai itu sebanding dengan usaha yang ku lakukan.
Aku kembali ke diriku saat ini. Ketika usahaku tak maksimal, aku meminta hasil yang optimal. Aku malu, teramat malu dengan diriku yang dulu. Kemana aku yang dulu? Kini ku sia-siakan waktu, tak bisa mengoptimalkan apa yang seharusnya bisa aku maksimalkan. Tidur larut malam hingga ku seringkali lewatkan sepertiga malamMu ya Rabb.
Oh, ibu..
Maafkanlah aku..
Engkau mungkin masih dan selalu menganggapku sebagai anak yang rajin,
berbakti, dan selalu bersungguh-sungguh dalam setiap hal
Padahal, jika kau tahu sebenarnya,,
Mungkin kau akan kecewa dan marah..

Maafkan aku Ibu,,
Aku yang harusnya bisa lebih optimal
Justru menyia-nyiakan waktu, peluang, dan kesempatan
Membiarkan kotak harta karun itu tergeletak
Diam, tak apalah diambil orang lain

Oh, ibu..
Andai engkau ada disini,
Kau pasti bisa jadi penyemangatku di saat ku lelah
Dan pengingatku saat aku lengah

Aku selalu merasa bahwa apa yang aku jalani saat ini bertentangan dengan apa yang aku rasakan sebenarnya. Ini bukan duniaku. Ini bukan gue banget! Namun, aku takkan pernah bisa menyalahkan apa yang sudah ku putuskan, apalagi berbekal kepercayaan bahwa apa yang aku jalani saat ini adalah yang terbaik untukku.
Setelah merenungi semuanya, aku hanya cukup satu, USAHA LEBIH untuk hasil optimal dan capai KESUKSESAN MAKSIMAL.
........

12:30 am, Mon 29-10-2012
di peraduan K-4

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top