0

Galau - Air Mata


Senyuman-senyuman itu kini agaknya malu tuk diperlihatkan. Air mata itu justru yang menggantikannya. Ada apa dengan semua ini. Aku berhenti sebentar, mencoba mengerti keadaan. Cukup lama ku memikirkan, namun tetap saja tak ku mengerti.
Air mata. Mengapa kau keluar begitu sia-sia. Buat apa kau keluar tanpa alasan yang jelas. Hah, bisa-bisa aku dihujat seseorang, puluhan orang, hingga ratusan jika kalimat itu terlontar begitu saja di hadapan mereka. Ya. Ya. Ya. Saya tahu saya belum pernah merasakannya dan saya tidak boleh sok tahu, itu kan maksud Anda?
Seperti yang ku katakan, aku tidak mengerti. Namun, aku hanya mencoba berpikir realistis, terlepas dari hujatan yang akan ku terima. Jika kita berperan sebagai air mata, maukah kita keluar sia-sia? Keluar bukan pada saat yang tepat? Terbuang tanpa meninggalkan makna yang mendalam.
Akan tetapi, semua itu hanya bersifat teori. Prakteknya mereka lah yang lebih memahami karena untuk kesekian kali, merekalah yang dihujani air mata itu. Bukan aku, aku yang hanya bisa berharap.

Jika kau anggap ini bukanlah suatu permainan, maka aku pun menganggap demikian. Bedanya, aku menunggu saat yang tepat agar nantinya apabila aku memang harus mengeluarkan air mata, air mata itu tidak akan keluar sia-sia
0

TKN

Pernahkah kau mendengar jika pertemanan itu membutuhkan tingkat keasyikan. Jika tingkat keasyikanmu melebihi 100% maka kau adalah teman yang begitu menyenangkan. Jika tingkat keasyikanmu nol maka jangan pernah berharap bisa mendapatkan teman yang asyik. Jika tingkat keasyikanmu berada di ambang ini, 0 < tingkat keasyikan > 100, maka kau perlu mempertahankan bahkan meningkatkan tingkat keasyikanmu, jangan sampai tingkat keasyikanmu turun drastis, tidak mendapat suplai tingkat keasyikan dari keadaan sekitarmu hingga tingkat keasyikan menjadi nol. Jika sudah turun menjadi nol maka bersiaplah terdepak dari pertemanan ini.
Beginilah realita kehidupan ini. Kadang cinta, kadang benci. Kadang suka, kadang tidak suka. Demikian pula sebuah pertemanan. Terkadang satu sama lain merasa begitu dekat. Namun, tak jarang pula merasakan kejemuan terhadap salah satu orang atau merasa jengkel kepada satu atau beberapa orang dalam ikatan pertemanan itu. Lantas bagaimana dengan nasib si tingkat keasyikan nol (TKN) itu?
Powered by Blogger.
Back to Top