0

Mawar

Aku tumbuh dari sebuah biji kecil yang rapuh dan tak bernyawa. Hingga suatu hari datanglah seorang petani bersama istrinya. Mereka terlihat begitu keletihan. Dengan berbekal air botol yang tinggal setengah, sang petani tak letih mencangkul ladangnya yang saat ini musim kemarau. Sementara itu sang istri tengah sibuk mencabuti gulma yang mengganggu tanaman jagung yang mereka tanam sebulan yang lalu. Di tengah kesibukan sang suami, sang istri sejenak istirahat dipinggir ladang. Sambil memperhatikan banyaknya gulma dan rerumputan yang harus ia cabut, ia melirik ke arahku. Ia tertarik dan mengambilku pelan. Aku yang saat itu lemah tak berdaya hanya bisa tersenyum simpul.
Melihatku sang istri petani itu merasa iba. Ia membawaku ke bagian ladang yang paling subur dan menanamku disana. Aku pun diberi sedikit air minum pasangan petani itu. Padahal aku yakin benar, mereka begitu kehausan.
Setiap hari aku diberi perlakuan yang sama. Suami istri itu selalu ke ladang dan tak lupa menyisakan air minumnya untukku. Aku yang kering kini bisa imbibisi dan mulai melakukan perkecambahan hingga tumbuh layaknya biji-biji yang lain. Bukan hanya jagung yang dibersihkan dari gulma, namun aku pun dibersihkan. Begitu berjasanya mereka bagi kehidupanku.
Hingga kini aku tumbuh menjadi sebatang pohon yang kokoh. Namun, jika terlalu lemah jika dibandingkan pohon jati yang menjulang tinggi  karena aku hanyalah bunga mawar yang hanya melindungi diri dengan duri-duriku yang tajam. Terkadang aku merasa bersalah karena tanpa sengaja aku telah melukai kedua petani itu saat mereka hendak membersihkan gulma yang menggangguku.
Sebentar lagi aku akan berbunga untuk pertama kalinya. Sebuah mawar yang indah, harum dan menawan. Bunga pertamaku ini akan ku berikan untuk kedua petani itu. Ku harap mereka menyukainya. Tapi, lagi-lagi aku merasa bersalah. Begitu baiknya petani itu karena ia lebih membiarkan kumbang-kumbang itu mendekatiku.
Aku diam tak bergerak. Jujur ku merasa senang tatkala kumbang-kumbang itu mendekat. Namun, ku merasa sedih saat ku melihat kedua petani itu hanya memandangku dari sisi ladang yang berseberangan. Ku tahu mereka menginginkanku namun mereka lebih membiarkanku bermain dengan kumbang-kumbang itu.
Begitu bersalahnya aku karena lebih mementingkn bermain dengan kumbang-kumbang yang hanya mendekatiku saat aku berbunga saja. Sementara petani itu yang merawatku dari aku yang hanya biji kecil dan kering hingga kini aku berbunga indah. Itukah balasan untuk mereka??

Apa yang terlintas saat membaca cerita di atas?
Cinta. Sebuah kata yang hanya terdiri dari 5 huruf, C.I.N.T.A. Cinta selalu tertuju pada hubungan lawan jenis. Sebatas itukah makna cinta?
Dari cerita di atas, tidakkah kalian lihat betapa cintanya kedua petani itu pada si biji. Tanpa lelah, tanpa meminta apa-apa, mereka merawat biji itu hingga ia tumbuh menjadi mawar yang indah. Begitulah gambaran orang tua kita. Tanpa mengharapkan imbalan apapun, mereka dengan ikhlas merawat kita. Hingga kini tumbuh menjadi seorang remaja. Apa yang sudah kita berikan pada orang tua kita. Yang biasa kita lakukan justru sesuatu yang melukai perasaan orang tua.
Tidakkah kita merasa berdosa jika kita lebih memihak ke cinta dari orang yang baru mengenal kita dibandingkan cinta dari orang tua yang tak akan putus sepanjang masa??

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top