0

My Long Trip

3 Hari yang Lalu
Tiga hari yang lalu aku menciummu
Ciuman pertama dari lubuk hatiku

STOP!
Mungkin demikianlah yang terjadi saat membaca judulnya, apalagi mereka, Flanella Suka. Para fans dari sebuah band yang berasal dari Malang, Flanella. Mereka akan melanjutkan judul ini dengan bernyanyi sesuai lagu yang berada di album pertama Flanella. Dan bagi kalian yang tak mengenal Flanella, mungkin akan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang ku katakan barusan.
Yah, ini adalah sepenggal kisahku, bagian dari hidupku. Tak masalah kalau tak ada yang membaca. Aku pun heran mengapa aku menulisnya. Tapi menurutku, tulisan ini akan memberikanku sebuah senyuman saat ku tak muda lagi. Yang akan menjadi kenangan dan mungkin bisa ku ceritakan ke anak cucu. 


14 februari 2011. Orang bilang hari ini adalah hari valentine, hari kasih sayang, hari yang identik dengan bungkusan berwarna pink dan berisi coklat. Ku tak peduli hari apa ini yang jelas hari ini hari Senin, hari untukku pulang kampung untuk kedua kalinya.
Pulang kampungku kali ini terasa berbeda.  Selain karena aku pulang dengan mencoba kendaraan darat lain yakni kereta, aku juga pulang dengan rasa tidak tenang. Aku senang karena aku punya kesempatan untuk balik ke rumah, namun aku juga tidak tega meninggalkan mysistakutersayangtaksukapisangdankucingnyabelang.  Aku bisa merasakan apa yang ia rasakan, karena aku  juga merasakan hal yang sama saat aku tidak bisa pulang kampung pada libur lebaran kemarin. Terasa sepi.
Hari itu, hari sebelum tanggal 14, aku seharusnya bersama dengan kedelapan orang yang lainnya pergi menuju Bekasi ke planet Namex, begitu beberapa temanku menyebutkan. Tapi berhubung aku baik hati, maka aku akan bilang bahwa hari itu aku menuju ke rumah Ari.
Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini, tapi fakta memaksaku mengatakannya. Aku adalah bagian dari 10 orang yang punya tujuan sama. Ini bukanlah genk, karena buktinya di kampus, kita tidak pernah beriringan bersepuluh. Tapi kita selalu mengadakan “secret meeting” dan aku selalu senang tak kala harus berkumpul. Terasa tegang dan gokil. Mungkin tak perlu ku sebutkan satu persatu karena dalam perjalanan cerita ini, sosok mereka muncul dengan sendirinya. Yang perlu diketahui 10 orang ini terdiri dari 4 cowok dan 6 cewek.
Pukul 08.00 WIB kita kumpul di kosan yang depannya ada penjual nasi uduk yang selalu terlihat sibuk melayani pelanggan. Kosan itu adalah kosan Guruh, anggota termuda dari kesepuluhan ini. Walau termuda terkadang ia menjadi sosok yang tua. Entahlah, aku tak tahu jalan pikirannya. Karena tak jarang ia menampakkan sifat ‘termuda’nya. Pukul 07.59, aku masih standby di kosanku tercinta. Aku tak segera berangkat karena Intan akan ke kosanku terlebih dahulu sebelum kita melancong jauh ke kosan Guruh. Intan, sosok yang tak perlu ku jelaskan lebih lanjut. Jam 8 lebih sedikit Intan pun datang dan aku pun tinggal memakai sepatuku yang sudah agak lapuk. Ku buka pintu dan tak hanya ku dapati Intan yang berdiri di balik pintu yang susah ditutup itu. Ada Duo Bantenan. Sitdew, begitulah nama mereka kalau digabung. Berasal dari SMA yang sama, sekelas dan sekarang tinggal di kosan yang sama, sekamar. Tak lama aku memakai sepatu, kita berempat berangkat.
Di tempat kita janjian, rupanya masih sepi. Ku sms ketua rombongan kami, Memzky. Tak lama sebelum smsku dibalas, ia muncul dibalik pintu kosan. Rupanya ia telah menunggu sejak tadi.
“satu,dua,tiga,empat,lima,enam. Yang kurang siapa?”tanyaku.
“Illy menunggu di kereta.” Jawab Memsky. Illy berasal dari Bogor. Hampir tiap pekan ia pulang ke rumahnya. Ia sosok anak kota yang suka bercerita. Paling seru ketika ia menceritakan kegilaan masa SMA nya.
“Putri, sakit. Ia terkena gejala tipus.” Kata Intan yang sedikit sibuk dengan buku yang ditangannya.
Aku pun mengambil handphone dan mengirim pesan singkat ke Anggun. Si Boii 6, begitulah aku menyebutnya di setiap kisah perjalananku, rupanya tak bisa ikut ke Bekasi. Mamanya datang dari Brebes. Sebuah kota yang tak ku ketahui secara pasti letakknya di peta.
Akhirnya kita berenam berangkat. Jalan kaki menuju pool. Lumayan lelah berjalan kita naik metromini 07 menuju stasiun Senen. Kita akan ke Bekasi naik kereta ekonomi AC. Moment membeli tiket adalah moment yang aku nantikan karena aku akan memesan tiket untuk kepulanganku. Sungguh sayang karena loket 18 masih tutup. Memzky pun mengatakan padaku untuk membeli tiket nanti sore. Aku pun menurutinya karena ku pikir ia lebih tahu dari aku.
Sebelumnya aku bersama mereka pernah ke Bekasi sebelumnya. Sehingga kita tidak terlalu bingung dimana kita harus menanti kereta. Jalur 3. Pukul 09.10 WIB, jalur 3 masih dihuni kereta Bogowonto, kereta yang sebenarnya bisa membawaku pulang ke tanah kelahiranku. Ku tahu itu dari tulisan yang berada di badan kereta, Kutoarjo.
“Ke Bekasi jalur 1.” Terdengar seseorang berceletuk. Memsky, sebagai pemimpin jalan pun segera ambil tindakan. Ia bertanya pada orang-orang yang sekiranya tahu. Dan benar saja, harusnya kita di jalur 1. Rupanya kita sudah agak telat karena dari barat sudah terlihat kepala kereta. Kita pun berlari menyeberang beberapa rel dengan rasa agak cemas. Lari lagi. Dan lagi hingga kereta benar-benar berhenti. Kami pun masuk ke gerbong 6, dan karena rasa terengah-engah berlari masih berasa, maka tak sengaja sandal Memzky ku injak dan jatuh di muka pintu. Beruntung tidak jatuh ke rel, bisa jadi aku tidak mengakuinya sebagai teman karena ia tak bersandal selama perjalanan. Kita duduk manis. Rupanya illy berada di gerbong 7 dan bergabung denan kami setelah Guruh menjemputnya.
Perjalanan menyenangkan. Apalagi setelah kita sampai di Planet Nameks, rumah Ari maksudku. Melihat Memzky yang kekenyangan, Guruh yang mati kutu karena skandalnya dengan gadis Madiun telah terungkap dengan Intan sebagai pelaku utamanya, Illy yang sengaja menggoda Dewi dengan ke‘MASA?’an milik orang yang menurut kita dekat dengan Dewi. Siti, saudara kembarku yang tengah menginterogasi Ari bagaimanakah seharusnya ia dan dewi pulang ke Serang.
Hari sudah sore. Siti dan Dewi akan langsung pulang ke Serang. Sementara aku, Intan, Illy, Memzky dan Guruh akan kembali ke Sungbam. Cukup sengit perdebatan kami sore itu, memutuskan bagaimana kita kembali. Pulang dengan kereta sepertinya tidak mungkin karena sudah menjelang malam.
 Akhirnya keputusan inilah yang kami ambil. Pergi ke Pulo Gadung, mengantar Sitdew dan kita kembali ke Sungbam dengan busway. Mencari, mencari dan mencari. Kita mencari bus yang bisa membawa Sitdew kembali ke asalnya. Naluri kepulanganku semakin menjadi ketika ku lihat bus yang sama dengan bus yang ku naiki saat pertama kali pulang ke kampung, Sumber Alam.
Setelah berpamitan dengan Sitdew, kami pun menuju halte busway. Sore itu cukup penuh, namun masih bisa kami untuk duduk. Menuju Cempaka Timur, Illy tengah bersiap-siap turun. Namun, Memzky dan Guruh memberi isyarat untukku, apakah aku jadi ke Senen terlebih dahulu atau tidak. Aku terima niat baik mereka. Tapi aku kasihan melihat bangku Illy yang sudah diduduki orang lain.
Sesampainya di Senen, kita berjalan cukup jauh menuju stasiun. Dan sungguh mengeneskan karena rupanya loket 18 masih saja tutup. Bukan karena belum buka seperti tadi pagi, tapi karena semua tiket telah terjual habis. Sebelum pulang ku pun bertanya, dan ku ketahui bahwa tiket tidak bisa dipesan dan kalau mau beli datang lagi besok jam 3.
Ku terlihat kecewa. Namun, aku jauh merasa sedih karena melihat temanku yang sudah berbaik hati mengantarku memesan tiket, namun kenyataan malah berbuat seperti itu. Ku hanya bisa mengucapkan TERIMA KASIH pada kalian semua.
Kami pun balik ke Sungbam dengan naik 07.  Ku duduk di sebelah Intan. Selalu. Lantas ia menawarkan kepadaku, “Besok, jam 2 aku antar kamu beli tiket. Tapi naik bus aja ya, jangan naik motor.”
Deg. Jantungku seakan berhenti sebentar. Aku tak bisa berkata-kata. Intan terlalu baik menurutku, tak seperti aku yang mungkin hanya sebagai benalu baginya. Aku tak terlalu banyak bicara, apalagi menyangkut kepulanganku kali ini. Ku tak ingin ia semakin tak rela akan kepulanganku. Bahkan sebuah silverqueen tak mampu meluluhkan hatinya.
“Aku tak butuh kamu di hatiku. Aku butuh kamu di sampingku.” Kata Intan yang membuatku semakin berat meninggalkannya. Selama di Jakarta, dialah sista ku yang paling baik. Waktuku pun dihabiskan untuk bersamanya. Yang aku tanyakan, “Mengapa aku tak pernah bosan bersamanya?” Mungkin karena terpaksa. Itulah jawaban lirih dari hatiku.

Jam 8 malam aku sudah di kosan. Intan mengungsi di kosanku sebelum Ova datang menjemputnya. Tak berapa lama, Ova datang. Intan pun berlalu. Sementara aku mempersiapkan peralatan mandi. Aku ingn mandi, rasanya badan telah lengket oleh keringat. Dan ketika aku akan membuka pintu kosan, pintu itu telah terbuka sebelum ku sentuh gagang pintunya. Seseorang telah membukanya dari luar.  
Aku begitu kaget melihat sosok itu. Besar dan biru. untunglah dia masih tergolong makhluk hidup sehingga tidak sampai membuatku pingsan. Tapi tetap saja, aku kaget setengah mati melihatnya.
Muslihat jahat menampakkan hidungnya. Si Mus. Siapa lagi kalau bukan PutriAyuRahayuKemayu. Gelak tawa keluar dari dirinya. Tak bisa ditahan, apalagi melihat ekspresiku saat itu. Bagaimana bisa seseorang yang tadi pagi mengaku kalau tengah sakti gejala tipus kini berdiri di depan mata tanpa memperlihatkan tanda-tanda kesakitannya. Ia pun mengakui bualannya.
Ku tinggal ia mandi dan ia masih saja tetap tertawa. Selama aku mandi, ku biarkan Putri merajai laptopku. Awalnya ia hanya ingin melihat project gagal yang aku ceritakan di beberapa hari sebelumnya. Namun, setelah aku kembali ke kamar, ku lihat Putri sudah meraja lela membuka-buka folder di semua drive. Tak masalah bagiku. Toh tak ada yang ku rahasiakan dari dirinya. Walaupun sebenarnya ada bagian sensitif dari laptop ini yang ku harap tak ada seorang pun yang membukanya. Dan kalaupun suatu hari ada yang membukanya, aku pun tak akan marah.
Putri berada di kosku hingga 22.38. Kami habiskan malam itu dengan facebook-an. Dengan account milik Putri tentunya. Ia memperlihatkanku beberapa foto di facebook milik orang lain. Ia pun menunjukkan siapa Iank yang katanya tinggal di Jogja. Keisengannya tiba-tiba muncul. Muslihat jahatnya kembali membabibuta. Ia me-log out dari account facebooknya. Namun, ia kembali log in dengan e-mail dan password yang berbeda. Setelah terbuka, rupanya itu account Siti. Dan seperti biasa, ia menulis status yang tak jelas. Tapi ku rasa ia masih cukup tahu diri apakah keusilannya itu sudah melewati batas atau belum.

Tanggal 14 pagi. Seperti biasa, sehabis subuh dan setelah ku habiskan satu ember penuh cucian kotor, aku kembali ke alam mimpi. Hari ini Intan mengajakku ke kampus, namun ia belum memberitahukanku mau berangkat jam berapa. Ku puaskan tidurku dan aku terbangun ketika Vita, teman sekamarku, membangunkanku dan memberitahu kalau Intan sudah berada di ambang pintu. Ku lihat jam di hapeku, 7:38, ku lihat Intan sudah rapi namun tak berseragam. Ku suruh ia masuk, dan aku pun minta ijin untuk mandi. Sementara ia menempatkan diri di kasurku yang tipis dengan buku di tangannya. Buku yang masih sama seperti kemarin.
Waktu ku mandi tidaklah lama. Yang terpenting terkena air dan sabun. Sudah cukup. Aku kembali ke kamar dan mendapati Intan dengan posisi yang sama. Sementara aku langsung mengambil posisi menyetrika karena ku dapati seragamku belum satu pun yang ku setrika. Belum selesai menyetrika, Vita menawariku untuk memesan makanan sekalian atau tidak. Aku iyakan tawaran baiknya.
Cuaca di luar sedang tidak mendukung. Gelap dan tetesan air serasa di tumpahkan dari langit. Setelah selesa setrika dan makan, aku pun segera mengambil posisi yang sama dengan Intan dengan buku di tangan pula. Tentu saja buku yang berbeda dengan buku yang di tangan Intan. Buku yang ku pegang berjudul Negeri 5 Menara. Ku rasa Intan punya pengalaman tersendiri dengan buku itu. 1 lembar, 2 lembar, 3 lembar. Mataku seakan tertutup kembali. Dan beberapa menit ku biarkan mata ini benar-benar tertutup. Bosan dengan itu, aku membuka HP, iseng melihat facebook. Ku lihat  notifikasi. Beberapa temanku posting di group MI Family.
Ku baca beberapa postingan terbaru. Semuanya mengabarkan kalau hari ini anak MI harus datang ke kampus karena nilai akan keluar hari ini. Aku sedikit terperanjat. Namun, rasa itu seketika hilang tertindih rasa malasku karena cuaca yang tidak bersahabat. Di tengah kebosananku, Putri datang ke kosku. Tak seperti malam kemarin dimana ia tak membawa apa-apa, ia kini datang dengan tas nya yang besar. Ia akan  balik ke Serang. Kedatangannya tak lagi mengejutkanku, namun kali ini Intan lah yang kaget setengah hidup. Ia baru sadar ia telah tertipu oleh Muslihat jahat. Putri pun hanya cengar-sengir tak berdosa.
Putri mengeluarkan 1 buah DVD dari dalam tasnya. Death Bell. Sebuah film korea yang baru saja ia tonton. Ia pun memperlihatkannya padaku. Seketika aku langsung mencopy film itu. Ia tak marah, toh ia juga hanya meminjam. (dipinjami atau dibelikan? Ingatanku sudah agak berkurang). Selesai ku mengcopy film itu, Putri mengajari aku cara agar subtittle dari film itu keluar.
Tanpa sengaja Putri melihat memory drive C ku yang sudah memerah. Tandanya drive C ku hampir penuh. Ia pun dengan nada meninggi menyuruhku memindah sebagian isinya. Ku rasa ia peduli padaku. ^^
Putri selanjutnya mengeluarkan satu buah DVD lagi di dalam tasnya. Ia tak menginjinkanku untuk segera mengcopy DVD itu karena dirinya juga belum menontonnya. Ia pun mengajakku untuk menonton bersama sebuah film yang berjudul Let me in. Sebuah film yang judulnya tak begitu asing di telingaku namun aku tak pernah merasa menonton film itu. Vita, yang saat itu tengah siap berangkat ke kampus namun diurungkan niatannya itu karena hujan masih jatuh di luar sana, mengingatkan bahwa resensi film itu ditempel di mading. Aku pun seketika ingat karena itu adalah hasil editanku. Maka dengan mengingat-ingat aku memperhatikan film yang diputar. Aku, putri, vita, Ayy (teman seprodi Vita) dan 2 anak ibu kos yang ikut nimbrung, pandanngannya tak lepas dari layar laptop. Sementara Intan tak sedikitpun tertarik untuk melihatnya. Ia masih pada posisi yang sama.
Let me in. Sebuah film yang menggambarkan seorang anak kecil berusia 12 tahun. Ia terlihat begitu menderita karena teman-temannya tak menyukainya. Bahkan ia dianggap sebagai seorang gadis yang lemah dan bisa apa-apa. Suatu hari datanglah seorang gadis dan seorang lelaki tua yang dianggap sebagai ayahnya. Gadis itu bernama Abby. Ia bersama ayahnya itu tinggal disamping apartement si anak kecil tadi. Akhirnya anak itu berteman dengan Abby. Tak disangka Abby adalah seorang vampir. Dan lelaki tua yang dianggap sebagai ayahnya itu rupanya memang hanya anggapan belaka karena sejatinya ia adalah suami Abby. Ya, mereka bertemu kala lelaki tua itu berusia sama dengan Abby. 12 tahun. Dan karena Abby seorang vampire maka selamanya ia akan beumur 12 tahun. Betapa besar pengorbanan sang lelaki tua itu. Ia rela membunuh orang hanya untuk mengambil darahnya dan diserahkan kepada Abby. Hingga akhirnya ia harus menyiram dirinya dengan asam berbahaya saat dirinya sudah tak mampu melarikan diri dari kejaran polisi. Di akhir hayatnya ia pun rela memberikan darahnya untuk Abby.
Mungkin kau harus menonton sendiri bagaimana kelanjutan kisahnya dan apa yang terjadi dengan anak kecil itu.
Sebelum film itu benar-benar habis, Vita dan Ayy sudah minta ijin untuk pergi. Sementara aku dan Putri tetap tak berpaling dari film itu. Intan yang sudah menghabiskan bukunya lebih memilih tidur daripada ikut menonton apa yang tidak ia tonton dari depan.
Sekitar pukul 13.30 film itu akhirnya habis. Kami pun segera sholat dhuhur. Dan karena cacing di perut sudah memberontak maka seusai sholat kami putuskan untuk mencari makan. Intan sedang tidak selera makan nasi karena kondisinya yang sedang tak enak badan. Ia merekomendasikan mie ayam sebagai makan siang. Aku pun menyetujuinya. Berhubung Putri belum pernah merasakan mie hijau, maka kita memilih mie ayam di warung yang ada mie hijaunya. Walau sedikit agak jauh dari kosanku, tak menjadi masalah karena kita bersama.
Seusai makan siang, Putri memohon diri untuk segera pergi ke terminal Tanjung Priok karena dirinya akan segera kembali ke Serang. Aku menyuruhnya menunggu sebentar untukku bersiap-siap karena aku juga akan pergi, pergi ke Stasiun Senen.
Aku dan Intan berpisah dengan Putri di pertigaan dimana pojokkannya terdapat sebuah warteg yang biasa ku datangi. Putri ke arah barat, aku dan Intan ke Timur. Seperti janji Intan, hari itu ia menemaniku untuk membeli tiket kereta. Sepanjang perjalanan kami tak banyak bicara. Sesekali kami melirik ke arah yang sama menandakan satu pemikiran. Yah, saat itu ada 2 pengamen kecil yang sepertinya tidak niat menjadi pengamen. Semoga saja mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan.
Perjalananku terasa jauh. Aku bahkan merasa salah arah. Namun, segera ku tepis prasangkaku setelah melihat rel kereta api di depan sana. Aku turun dari 07, metromini yang mengantarku. Dengan Intan pula tentunya. Kami segera menyambangi loket 18, sama seperti kemarin.
Tak terlihat antrian yang begitu panjang. Aku pun dengan segera mendapatkan tiket ku. K3-7 6D. Ku sedikit tak mengerti dengan kode itu. Tapi kata Intan, tempat dudukku berada di no 6D. Sudahlah, biarlah cangkir itu kosong, walau sebenarnya aku ingin sekali menanyakan kode pada tiket itu ke temanku yang sering pulang dengan kereta api.
Setelah mendapatkan tiket aku pun memutuskan tuk segera kembali ke kosan, mempersiapkan apa yang seharusnya ku siapkan. Aku mengajak Intan untuk naik busway saja, bukan 07 seperti pada waktu berangkat.
Dengan mengingat-ingat jalan pulang dengan busway, beberapa insiden terjadi. Tidak tahu dimana kita harus menunggu busway. Berdiri di pintu tunggu busway. Naik busway sebelum penumpang yang di dalam turun. Sore itu busway yang dari Senen tidak hanya penuh penumpang,  tapi sesak. Aku nyaris tak bisa bergerak. Akhirnya sampai juga di Cempaka Timur/Cempaka Mas. Untung saja aku tidak lupa untuk turun di sana. Kalau saja aku lupa aku bisa tersesat entah dimana. Busway dari Cempaka mas berbeda dengan yang tadi. Kali ini justru kosong tak berpenumpang. Bisa ku hitung berapa jumlah penumpang saat itu tapi ku rasa tak ada gunanya ku hitung. Syukurlah, sebelum maghrib tiba, aku dan Intan sudah sampai di kosanku.
Intan melarangku mandi sebelum Vita, teman sekontrakannya datang bersama Ova. Sementara Vitaku belum menunjukkan kedatangannya. Ku pikir Intan akan mengantarku sampai Plumpang, sama seperti kepulanganku yang pertama. Tapi ku rasa kali ini tidak karena ia langsung menyuruh vita menjemputnya sesaat setelah kam tiba di kosan.
Setelah menunggu agak lama, Vita datang bersama Ova. Mereka pun berlalu meninggalkanku sendirian. Segera ku ambil handukku dan langsung menuju kamar mandi yang tak berpenghuni. Tak lama. Aku mengambil wudhu untuk segera sholat maghrib serta Isya. Ku tahu kereta tidak akan berhenti di tengah jalan untuk sekedar sholat. Selain itu, keretanya juga berangkat jam 21.00.
Setelah siap ku berpamitan dengan ibu kos yang tengah sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun anaknya yang kedua, Vera. Tak lupa ku ucapkan Selamat Ulang Tahun untuk Vera. Semua siap. Pukul 18.45 aku berangkat dari kos. Walau Intan menyuruhku berangkat pukul 19.00 aku sengaja berangkat lebih awal karena aku mampir di Indomart untuk membeli satu botol air minum, sekalian mengambil uang disana. Tak mungkin kan aku pulang hanya membawa uang Rp 15.000,- sebenarnya mungkin saja, tapi bagiku tetap tidak mungkin.
Di tengah perjalananku tiba-tiba HP ku berdering. 1 sms masuk dan ku baca:

Ak arep nk kosmu,
pkoke glem ra glem,
so sweet ra so sweet ue ra tak ikhlaske
balik nek ak ra mbuk
nteni nek kosem.
Titik kasebek..
Ue lgi ntuk lungo nk ak ws ng kno.

Deg. Saat itu aku tengah berjalan menuju Indomart. Membaca sms itu seakan kaki ku ada yang memegangi. Langkahku menjadi berat dan pelan. Entah apa yang ku rasakan saat itu. Ku balas sms itu. Namun, tak ada lagi balasan darinya.
Ku tetap teruskan langkahku. Hingga ku selesaikan urusan di indomart. Intan belum juga membalas smsku. Ku pun segera mengetik sms yang mengabarkan aku akan kembali ke kosan. Sebelum sempat sms itu terkirim, ada satu panggilan masuk. Vita, teman sekontrakan Intan.
Singkatnya, aku bertemu dengan Intan dan Vita tak jauh dari Indomart.  Mereka lantas mengantarku sampai di Plumpang, dan seperti biasa, kita telon/cenglu. Sesampainya di Plumpang, ku pandangi Vita dan Intan. Entah apa yang dipikirkan mereka, yang jelas langkahku terasa semakin berat melihat muka Intan. Tapi, aku harus segera pergi. Aku tak ingin ketinggalan kereta. Dan sebelum pergi, ku berikan sebungkus coklat ratu perak ke Intan. Coklat itu aku beli bukan karena kalah taruhan dengan Intan, tapi aku juga tak tahu mengapa aku ingin memberikannya.
Ku menuju stasiun dengan metromini 07, sendirian. Sebenarnya ada seseorang yang bersedia mengantarku dari kosan hingga stasiun. Namun, ku tolak halus tawaran baiknya. Bukan karena apa, tapi karena mengapa atau karena bagaimana? Sudahlah. Di sepanjang perjalananku beberapa teman mengirimkan pesan berisi doa untuk keselamatanku di jalan. Mereka sungguh teman yang baik.
Tiba di stasiun aku merasa sedikit kikuk, namun tak ku perlihatkan hal itu. Saat itu jam 20.00, ini berarti aku harus menunggu 1 jam lagi. Ku mengirim pesan ke beberapa orang.
.....ku duduk sendirian. Kaya orang ilang....
Beragam jawaban dari mereka, cukup menenangkan hatiku yang sedikit tak karuan ini. Ketakutan akan ketidakdapatan tempat duduk seperti yang diceritakan temanku, pesan untuk selalu menjaga barang bawaan, pesan untuk tidak tidur supaya aman. Itu semua menggelayuti pikiranku. Apalgi ku lihat di sekitar banyak orang yang akan menaiki kereta yang sama denganku, Progo.
Pukul 21.00. Akhirnya Progo datang siap membawa berbagai rasa dari para penumpangnya. Rasa rindu akan keluarganya, kangen akan kampusnya, cinta akan tanah kelahirannya. Melalui suara yang ku dengar dari speaker, ku ketahui aku berada di gerbong 7. Tak ingin salah masuk gerbong, aku tanya pada petugas yang ada. Ku masuki gerbong 7 yang lumayan padat. Ku cari tempat duduk bernomor 6D.
6D bersebelahan dengan 6E yang berhadapan dengan 5D dan 5E. Ku dapati keempat bangku itu sudah diduduki 4 orang. Deg. Ku buka tiketku dan ku pastikan itu adalah tempat dudukku. Berlagak tak tahu ku bertanya, “Ini 6D ya? Gerbong 7 kan?”
Seorang lelaki berusia 20an tahun menjawab, “iya benar.”
Melihatku membawa tiket, seorang bapak yang menduduki tempat dudukku seketika berdiri. Mungkin ia merasa tak membeli tiket, sehingga ia juga tak berhak duduk disitu. Untunglah, aku tak harus berdebat dengan orang itu hanya untuk memperebutkan sebuah kursi.
Ku duduk di dekat jendela. Seharusnya itu untuk tiket bernomor 6E. Berhubung orangnya belum ada, maka ku duduki saja. Sementara itu, satu orang yang tadi duduk di bangku 5 rupanya salah gerbong. Ku mendekap Acep hingga kereta berjalan. 
Tak ku rasakan keanehan ketika kereta mulai berjalan. Hingga akhirnya ku sadar juga kereta itu adalah kereta ekonomi. Dan benar seperti yang dikatakan teman-temanku. Kereta itu bak pasar berjalan.
“Mijon..mijon...”
“Kopi, mie, pop, mie...”
“Nasi..nasi..panas....ayam..”
“Tahu lontong, tahu...”
Begitu banyak yang diperdagangkan disana. Mulai dari sisir hingga buku. Semuanya ada. Lengkap. Ku tak sedikit pun minat untuk membeli.
Ku membuka dan mulai membaca buku yang tadi pagi dibaca habis oleh Intan. Baru beberapa lembar, mataku sudah pedih. Tak tahan. Aku pun segera mencari posisi yang tepat untuk tidur.  Sayangnya, beberapa posisi tak bisa membuatku merasa nyaman dan aman tidur malam itu. Ku pun mencoba sebisa mungkin untuk terlelap.

15 Februari 2011 pukul 03.15. Ku terbangun dari tidur tak tenangku. Ku lirik layar handphoneku. 1 missed call. Ku lihat siapa dan ternyata dari private number. Ku tak terlalu memikirkannya karena mungkin itu dari sala satu fansku. Ku kembali memcoba memejamkan mata kembali dengan badan yang pegal-pegal. Dengan mata yang terbuka dan terpejam ku coba menikmati sisa perjalanan yang kurang beberapa jam lagi. Dan dengan menikmati para penjual yang masih tetap berlalu lalang tentunya.
Pukul 05.15, aku dikagetkan oleh suara handphoneku. Ada panggilan masuk dan dari si private number lagi. Ku angkat kali ini. Subhanalloh, rupanya Memzky. Ku ingat malam itu, saat beberapa menit ku duduk di bangku kereta, Memzky mengingatkan agar aku jangan terlalu banyak tidur agar tidak kebablasan dan salah turun stasiun. Aku pun meminta Memzky untuk membangunkanku. Dan pagi ini Memzky benar-benar membangunkanku. Tak hanya miss call, tapi telpon. Seketika ku berpikir, betapa bodohnya aku jika aku tak bersyukur. Aku punya teman-teman yang sudah tak layak lagi disebut teman, karena mereka adalah saudara. Saat itu Intan mengantarku dan kini Memzky menelpon tuk membangunkanku.
Dalam hati ku bersyukur pada Alloh. Ia sudah mengatur segalanya. Aku pun tak akan pernah menyesal untuk kuliah di POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA. Sebuah perguruan tinggi swasta yang tak banyak diketahui orang. Sebuah kampus yang jauh tidak dikenal apabila dibandingkan dengan UI, UGM, dan ITB. Tapi siapa disangka, tak hanya ilmu yang ku dapat disini, tapi juga sebuah keluarga.

Gombong. Tak ku sangka aku sudah tiba di Gombong. Beberapa penumpang sudah turun. Keadaan di luar sudah terlihat jelas. Tak seperti malam itu. Aku pun sudah mulai mengabari keluargaku, memberitahukan posisiku sekarang.
Kebumen.
“Habis ini turun?” tanya mas-mas yang duduk di depanku.
“Satu stasiun lagi.” Jawabku singkat.
Beberapa kali mas itu bertanya padaku. Tanya aku turun dimana? Kuliah dimana? Semester berapa? Namun, selalu saja ku jawab singkat. Bukan karena aku takut karena kulitnya yang hitam, tapi karena... entahlah.
Kutoarjo.
Tak terasa perjalananku sebentar lagi akan berakhir. Aku sudah berada di Purworejo. Aku tinggal turun di stasiun berikutnya. Maka aku kan segera menikmati rumahku yang baru 1,5bulan ku tinggal. Ku mendapat sms dari ibuku yang mengakatan telah siap menjemputku di stasiun berikutnya.
Jenar.
Ku bersiap-siap turun tatkala ku lihat jalan raya dekat stasiun. Jalan itulah yang selalu ku lewati saat ku masih berseragam abu-abu kala itu. Dan ketika kereta benar-benar berhenti, aku turun dengan hati. Ku tengok ke kiri. Ku lihat ibu dan adikku telah menanti kedatanganku.
Saat itu perasaanku tak seperti saat pertama kali aku merasakan pulang kampung. Dulu begitu terharu ketika menginjakkan tanah di Purworejo, tapi saat itu terkesan biasa. Mungkin aku sudah mulai terbiasa.
Kami pun segera berlalu meninggalkan stasiun Jenar yang agak ramai itu menuju rumah tercinta. Namun, sebelumnya kami mampir ke pasar Jenar untuk sekedar membeli gethuk ireng.

Hari ini tanggal merah. Umat muslim merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kesempatan bagiku untuk berkumpul bersama keluarga. Dan seperti janji ibuku malam itu, hari ini aku diajak ke Samigaluh, sebuah desa di Kulon Progo, untuk menghadiri pesta perkawinan anaknya tetangganya nenekku. Walau ia bukan nenek sedarah, karena sejatinya ia adalah orang yang berbaik hati mengijinkan ibuku tinggal bersamanya saat ibuku mengajar di sekolah di dekat rumahnya, Aku suka berkunjung di rumah nenekku yang satu itu, mbah gunung ku menyebutnya. Ia memang tinggal di daerah pegunungan. Udaranya yang sejuk, jalannya yang ekstrim, selalu saja membuatku rindu. Bayangkan kau sedang naik motor di jalan yang datar, namun di seberang sana kau lihat ujung tiang listrik yang menyembul di depan. Di sampingmu jurang yang dalam. Ah, memang sulit kalau hanya dibayangkan. Ketika ku melewati jalan-jalan seperti itu, naik turun, aku jadi ingat teman SMAku. Namanya Deny. Seorang cewek yang tinggal di bagian utara kecamatan Bagelen, tepatnya di desa Semagung. Daerahnya berupa pegunungan, namun tak seekstrim  di tempat nenekku. Namun, jalan setapak menuju rumahnya cukup ekstrim juga. 90 derajat, begitu teman-temanku me-lebay-kan.
Sepanjang perjalananku menuju rumah nenekku, ku rasakan kantuk kantuk yang luar biasa. bahkan aku nyaris jatuh dari motor saat membonceng kakakku. Wajar lah. Aku menginjakkan kaki di Purworejo pukul 6.45 dan pukul 09.00 nya aku harus melancong ke Kulon Progo. Sadar ku berada di motor, ku paksakan mata ini untuk tetap terbuka. Semakin terbuka saat ku lihat jalanan rusak yang terakhir ku kunjungi belum separah itu.
Setelah sekitar 1 jam, akhirnya kami sampai. Ibu dan kakakku segera memarkirkan motornya di rumah nenekku. Yah, yang ikut saat itu adalah aku, kakakku, ibu, dan adikku. Setelah itu, kami bersama-sama jalan ke atas, menuju rumah yang punya gawe tapi sebelumnya kami telah menemui anggota keluarga yang tinggal di rumah nenekku. Cukup lama aku di atas. Dan karena ibuku melihat mataku yang sudah tak tahan tuk terpejam, maka kami berpamitan dan beranjak balik ke rumah embah.
Setibanya di rumah mbah, ku sedikit dikejutkan oleh seorang cowok seusiaku. Ali, namanya. Ia adalah anak dari teman ibuku saat mengajar. Tak ku sangka ia sudah sebesar itu. Badannya yang padat dan tinggi. Tak tepos dan tak gedhe. Ku masih ingat saat itu, saat kita masih duduk di kelas IV. Aku memamerkan peringkat 1 kepadanya, ia pun tak mau kalah. Ia mengaku kalau dia juga dapat peringkat 1. Sekarang dia kuliah di UAD, dan mungkin tiap minggu singgah ke rumah mbah gunung karena aslinya dia orang Cilacap. Tak banyak percakapan antara ku dan nya karena mata ini benar-benar lengket.
Ku rebahkan tubuhku di ruang tengah. Beberapa kali adikku mencoba mengganngu tidurku. Namun, karena beratnya mataku, aku pun terlelap, jauh, jauh, menuju alam mimpi.
pukul 14.00, kami pulang. Begitu menyenangkan. Dan bagiku, 3 hari ini adalah hari yang melelahkan. Dan menyenangkan tentunya.
Terima kasih untuk semuanya.

Tak ku sadari sudah 9 halaman ku menulis pengalaman 3 hariku ini. Tak seperti biasanya. Kali ini mengalir begitu saja. Mungkin karena kalian, teman-teman yang selalu ada di sampingku dan juga keluarga yang selalu di hatiku. Begitu berharganya kalian. Padahal aku ini (mungkin) hanyalah benalu yang sering menghambat kalian. Aku yang selalu merepotkan kalian. Aku yang selalu jahat, egois, emosian, pemarah, ( Apalagi?)  tapi kalian tetap ada di sampingku, ada untukku. Aku berjanji sebisa mungkin aku kan menjadi teman yang baik. Luruskan aku jika langkahku mulai membelok.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top