0

Malam Sebelum 3 Hari yang Lalu

Ku berada dalam keadaan yang berbeda dari yang ku bayangkan. Seharusnya kini ku berada dalam kesendirian di sebuah ruangan yang menjadi tempatku berteduh dari hujan dan panas. Ku ingin di saat itulah aku merenungi tentang siapa dan bagaimana aku. Tapi keadaan berubah. Sekarang ku berada di sebuah kontrakan bernomor 23, tempat kedua sahabatku tinggal. Dan kini ku menduduki singgasana sahabatku. Pojokan dekat pintu. Tempat yang baginya menjadi sumber inspirasi untuk menuangkan segala keluh kesahnya. Dan aku pun mulai membuktikan kehebatan tempat ini. Walaupun sebenarnya belum ada bayangan tentang apa yang aku tulis, namun ku coba ketikkan kata demi kata membentuk sebuah kalimat yang terangkai menjadi paragaf tak berarti. Sahabatku yang satu tengah asyik membaca sebuah novel buah karya Habiburrahman El Shirazy. Sementara sahabatku yang satu nya lagi menikmati acara televisi yang sama sekali tak menggelitik jiwaku untuk menontonnya. Namun, tiba-tiba ia beranjak mengambil laptop yang sama persis dengan Acep ku hanya sekedar mengecek account facebooknya. Aku pun melanjutkan mengetik sambil mencari-mencari bahan untuk ditulis.
0

Kucing

Pagi ini ku dapati sesuatu yang aneh di depan kosku di jalan Jati VI. Saat itu waktu baru menunjukkan 4.36 pagi. Walau berat ku memaksakan diri membuka mata untuk segera menemui Dia yang Maha Kuasa. Ku bangkit dari tempat tidurku yang tidak empuk itu dan segera meraih gagang pintu yang diam tak seperti handphoneku yang berdering membangunkanku. Hingga sesuatu yang aneh itu hadir di depanku, membelalakkan mataku.
Rasa tak percaya bergelayut dalam pikiranku. Ada 3 sosok yang 2 diantaranya berwarna putih. Ku coba meraba salah satunya. Lembut dan halus. Tak ada  suara. Segera ku berlalu dari 3 makhluk itu karena ku takut aku kan telat menemuiNya.
Aneh. Sebenarnya tak aneh karena 3 makhluk bertulang itu adalah kucing. Tapi menurutku terasa aneh karena yang ku lihat itu adalah sebuah keluarga kucing. Sang bapak tiduran di bangku yang panjangnya lebih dari 1 meter. Sementara anak kucing yang sudah lumayan besar tengah tidur bersama induknya di keset depan pintu. Terlihat mesra dan bahagia.
kucing tidur
0

My Long Trip

3 Hari yang Lalu
Tiga hari yang lalu aku menciummu
Ciuman pertama dari lubuk hatiku

STOP!
Mungkin demikianlah yang terjadi saat membaca judulnya, apalagi mereka, Flanella Suka. Para fans dari sebuah band yang berasal dari Malang, Flanella. Mereka akan melanjutkan judul ini dengan bernyanyi sesuai lagu yang berada di album pertama Flanella. Dan bagi kalian yang tak mengenal Flanella, mungkin akan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang ku katakan barusan.
Yah, ini adalah sepenggal kisahku, bagian dari hidupku. Tak masalah kalau tak ada yang membaca. Aku pun heran mengapa aku menulisnya. Tapi menurutku, tulisan ini akan memberikanku sebuah senyuman saat ku tak muda lagi. Yang akan menjadi kenangan dan mungkin bisa ku ceritakan ke anak cucu. 
2

Ibarat lagu, inilah soundtrack blog ini.....


AKU BISU KARENA MEREKA
Ku pandangi tiap tetes air hujan yang membasahi bumi pertiwi. Tetesannya menyuarakan sebuah nyayian indah yang menghantarkanku pada sebuah lamunan. Namun, apa yang aku lamunkan belum sempat mengendap dalam pikiranku karena percikan air yang menerobos masuk melalui jendela kamarku memaksaku tuk terbangun dari khayalan tak menentu. Ku tutup jendela yang mulai basah dan ku rebahkan tubuhku di atas kasur yang bertemankan guling dan bantal. Berharap bunga tidur lebih menenangkan hati daripada lamunan yang menghasilkan khayalan tak pasti.
Dunia memang tak adil bagiku. Semua tak pernah ku dapati. Bahkan, sebuah mimpi indah pun tak mau bersarang dalam tidurku. Ku terbangun dari tidur siangku yang singkat dan mendapati mataku yang basah. Ku yakin benar ini bukanlah air hujan yang masuk melalui ventilasi di atas jendela yang tertutup. Ku yakin ini adalah air mata, buah dari mimpi burukku. Sebuah mimpi yang menempatkanku sebagai makhluk yang paling hina. Mimpi yang semakin memberatkanku menjalani hidup ini. Mimpi yang tak hanya sekedar menjadi bunga tidur karena mimpi ini benar-benar menggambarkan kehidupan nyataku. Aku dihina karena aku bisu. Aku bisu karena orang-orang disekelilingku tak memberikan kesempatan untukku berbicara, keluarkan apa yang ingin aku katakan.
Powered by Blogger.
Back to Top