Cerpen jaman SMP dengan banyak perubahan

COWOK TOKO BUKU
“Hai, La....!”
Hening. Tenang, tanpa suara.
“HBernard...?!” ulang cewek yang bernama Bony sambil melambaikan tangannya ke muka sahabatnya, Bella.
“Eh, kamu Bon! Ngapain sih? Ngagetin aja!” kata Bella tersentak.
“Yee... kamu dipanggil dari tadi nggak nyahut-nyahut, ngalamun aja. Mikirin aku ya?” tanya Bony iseng.
“Aduh, nggak penting kali mikirin kamu. Mending mikirin dia!” Bella marah, namun dilanjutkan dengan senyum-senyum sendiri.
“Dia. Dia siapa?” tanya Bony penasaran.
“Hihihihi...” Bella masih senyum-senyum aneh.
“Eh, cerita donk!” pinta Bony. “Ehmm, aku tahu. Pasti soal cowok. Ya kan, ya kan?” Bony mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan Bella.
“He...he...he...iya. Kemarin kan aku ke toko buku, cari buku buat tugas Pak Bino, .....”
“Terus-terus...” potong Bony.
“Ya, terus saat aku mau ngambil buku yang aku cari, ternyata buku itu juga mau diambil oleh seorang cowok. Terus, tangan aku bersentuhan deh sama tu cowok, padahal ya, cowok itu cakep, putih, tinggi,... aduh pokoknya perfect deh!”
“Waduh, kayak cerita di sinetron tuh!” ledek Bony. “Eh, terus kalian kenalan nggak?”
“Nggak!”
“Kamu tau nggak dia siapa?”
“Nggak juga!”
“Aduh Neng Bella yang cantik jelita kayak gurita, ngapain mikirin cowok yang baru ketemu sekali. Mending mikirin Si Bandi aja tuh. Dia kan udah ketahuan naksir lo.” Goda Bony.
“Sorry ya, bukan level gue tuh!” Bella cemberut.
#_#
Keesokan harinya, Bella pergi ke sekolah seperti biasa. Rupanya bayang-bayang cowok yang baru pertama kali ditemuinya di toko buku itu membuatnya sering melamun dan senyum-senyum sendiri.
“Pagi La, masih mikirin cowok yang kemarin ya?” sapa Bony.
“He’eh nih, aku kangen berat ama tuh cowok. Oh Tuhan, andaikan aku bertemu lagi dengannya. Oh, akan sungguh senangnya hatiku.”
“Udah lah La, paling tu cowok cuma mampir ke toko buku itu, lalu kembali ke asalnya.”
“Oh, kan ku jadikan kau pangeran dalam hidupku.”
“Ya ampun! Udah nggak waras lagi nih anak! Ya udah ya La, aku ke kelas dulu. Tuh ada Bandi. Bye...!” kata Bony sembari pergi. Tak berapa lama ia sudah menghilang.
“Bon...mau kemana? Tega banget sih ninggalan aku!” kata Bella setelah menyadari sahabat karibnya, Bony telah pergi.
“Pa...pagi Bella.” Terdengar suara yang menyapa Bella. Tak begitu asing. Bandi.
“Pagi... Bandi, aku ke kelas dulu ya.” Kata Bella meninggalkan Bandi sendiri.
“La, tunggu! Aku mau ngomong.” Cegah Bandi. Namun, terlambat. “Yah, udah pergi.”
Akhir-akhir ini Bandi memang sering mendekati Bella. Katanya, ia ingin mengutarakan sesuatu ke Bella. Namun, penampilan Bandi yang berkacamata tebal membuat Bella selalu ingin kabur sebelum Bandi menyampaikan maksudnya.
#_#
Pulang sekolah Bella menghampiri Bony yang tengah berjalan menuju tempat parkir. Sudah dapat dipastikan bahwa Bella ingin pulang bareng Bony. Nebeng, maksudnya.
“Bony yang imut kayak semut, aku boleh pulang bareng kamu nggak?” pinta Bella, merayu Bony.
“Emangnya lo nggak dijemput?”
“Nggak. Mamaku lagi ke salon bareng temen-temennya. Jadi, bolehkah diriku ikut?”
“Aduh, sorry La. Gue buru-buru nih ada acara! Lo pulang sendiri nggak papa kan?”
“Ya, udah deh, nggak papa. Gue bisa naik bus kok. Ya udah, hati-hati ya Bon.”
“Sorry ya La.” Kata Bony.
Bella pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju halte bus di depan sekolahnya. Setelah menunggu beberapa menit, bus belum datang. Semenit kemudian, bus pun belum datang. Waktu Bella menengok ke kanan, memastikan apakah bus yang akan ia naiki sudah datang apa belum, ia justru menemukan sosok yang akhir-akhir ini ia impikan. Cowok toko buku.
“Cowok itu kan...?” Bella sedikit tak percaya. “Dilihat dari seragamnya, kayaknya dia anak SMA Indo Bintara. Lho, dia kok bareng Bandi!”
Setelah menyaksikan itu, bus pun datang, dan Bella pun pulang dengan membawa rasa penasarannya.
#_#
Malam harinya Bella masih terselimuti rasa penasarannya. Ia pun segera bercerita pada Barry, kakak laki-lakinya yang siap menapung semua kisah-kisah Bella. Sebelumnya Bella pun sudah bercerita tentang cowok toko buku itu pada Barry.
“Kak, menurut lo apa hubungannya cowok itu sama Bandi ya? Apa mereka kakak adik?”
“Yee, mana gue tahu. Emang gue bapaknya?”
“Yah, kak. Kok gitu sih? Aku tanya beneran nih?”
“Ya kenapa lo nggak tanya sama Bandi aja?”
“Hah, tapi kan Bandi suka sama suka gue. Nggak enak dong nanyain cowok itu. Lagian gue suka menghindar dari Bandi!”
“Aduh...aduh... kenapa gue punya adik yang super PD kayak lo sih? Darimana kamu tahu kalau Bandi suka sama lo?”
“Dari sikapnya. Dia grogi kalau ngomong di depan gue.”
“Yee, emang kalau gitu bisa dipastikan dia suka sama lo? Belum tentu kan?”
“Bony juga bilang kayak gitu kok!”
“Ya terserah, kalau lo mau mati penasaran! Eh, btw, Bony apa kabar?”
“Tau ah!” jawab Bella kesal. Bukan memberikan solusi yang sesuai dengan hati Bella, Barry justru menanyakan kabar Bony. Semenjak Bony datang ke rumah Bella untuk mengerjakan tugas sekolah, Barry sering menanyakan Bony pada Bella.
‘Heh, tapi mungkin benar kata Kak Barry. Satu-satunya orang yang tahu semuanya adalah Bandi. Ya udah deh, besok aku tanya dia’ batin Bella saat akan memejamkan matanya menuju pulau kapas.
#_#
Keesokan harinya, Bella memberanikan diri menghampiri Bandi yang selama ini ia hindari. Ia hanya ingin mencari tahu siapakah sebenarnya cowok yang bareng Bandi kemarin, dan apakah benar ia cowok toko buku itu.
“Bandi…” panggil Bella pada Bandi yang berjalan bersama seorang cewek, temannya mungkin.
“Eh Bella, tumben kamu panggil aku? Biasanya aku mau ngomong sama kamu aja, kamu dah pergi!”
“Emm, nggak aku cuma mau tanya, kemarin pulang sekolah kamu bareng siapa?”
“Maksud kamu Bernard?”
‘Oh, namanya Bernard!’ batin Bella. “Bernard?? dia siapanya lo?”
“Dia sepupuku. Oia, kamu udah kenal dia?”
“Belum. Makanya aku nemuin lo. Maksudnya sih pingin dikenalin sama dia!” kata Bella sambil cengengesan. Malu.
“Heh. Kalau aja dari kemarin kamu ngasih aku kesempatan buat ngomong sama kamu, La!”
“Emang, sebenarnya lo mau ngomong apa ke gue?”
“Ya ngomong kalau Bernard, sepupu gue itu suka sama lo, love first sight katanya!”
“Emang dia pertama kali lihat aku dimana? Di toko buku itu?”
“Ya, nggak lah. Udah 2 bulan yang lalu kalau nggak salah! Waktu dia jemput aku pulang, dia lihat kamu di halte lagi nunggu bus. Terus dia cerita ke gue kalau dia suka sama lo, ya udah gue rencanain aja kalian ketemuan di toko buku, biar bisa kenalan sendiri. Tapi dasar Bernard-nya aja yang aneh, nggak berani kenalan!”
“Owh, jadi kalian buntutin aku ke toko buku?”
“Ya enggak, gue kan tahu lo pasti ke toko buku itu kalau ada tugas dari Pak Bino, ya kan?”
“Oh, jadi gitu. Berarti dari kemarin kamu panggil aku mau bilang ini. Kirain…??”
“Kirain apa?” tanya Bandi penasaran.
“Kirain kamu suka sama aku. Hehehe…..” Bella malu.
“Hahaha, ya nggak lah. Oia, kenalin ini cewek gue!” kata Bandi memperkenalkan cewek yang berdiri tepat di sampingnya.
Kedua cewek itu pun berkenalan. Bella sedikit tak percaya, cowok seperti Bandi punya pacar yang cantik, bahkan cantiknya melebihi dirinya.
“Eh, La, gimana kalau ntar pulang sekolah gue kenalin lo ke dia?” tawar Bandi.
“Boleh…” kata Bella semangat.
“Aduh, semangat banget. Apa jangan-jangan lo juga suka dia ya?”
“Emm, mungkin!” muka Bella memerah. “Pulang sekolah ya, Ban!” Bella pergi meninggalkan Bandi dan Mellan, pacar Bandi. Malu.
#_#
Waktu begitu cepat. Mungkin hanya bagi Bella. Tanpa terasa bel pulang sekolah berbunyi. Bella pun segera menemui Bandi tanpa memerdulikan Bony yang menawarinya tumpangan seperti biasa. Akhirnya berkat bantuan Bandi, Bella dapat bertemu kembali– bahkan bisa berkenalan–dengan cowok toko buku yang tak lain bernama Bernard. Dan tanpa menunggu waktu lama mereka pun bisa menyaingi pasangan Bandi-Mellan.
tHe_EnD




1 comment:

  1. Wah :D keren banget :3 mulai SMP aja udah keliatan keren cerpenya

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.
Back to Top