0

Inilah aku...

-->
Pagi ini, kala mentari tak terlihat karena tertutup gedung-gedung yang menjulang tinggi, ku duduk terdiam di antara mereka, orang-orang yang kesehariannya begitu akrab dengan hiruk pikuk kota ini. Sesekali, bukan, beberapa kali ku goreskan tinta hitam ini ke atas kertas yang masih belum ternoda. Terlihat aku yang begitu malas dengan kegiatanku saat itu bisa tercermin dari tulisan yang aku tulis.
“Apa itu perusahaan?”
“Bagaimana struktur sebuah perusahaan?”
Tulisan itu bak cerminan dari ketidakpahamanku tentang mata kuliah yang saat itu ku ikuti. Ku tak mengerti pertanyaan bodoh itu selalu hadir tatkala ku ikuti mata kuliah “Sumber Daya Manusia & Organisasi” itu. Ku coba dengarkan, namun, aku tak bisa. Aku benar-benar tak paham rangkaian kata yang keluar dari dosen yang sudah memutih rambutnya itu.
Akhirnya ku putuskan untuk tak memaksa telinga ini mendengarkan semuanya. Ku aktifkan mulutku sekedar bertanya pada teman di sebelahku, “Ngantuk nggak?” atau sekedar mengeluh tak penting, “Huh, masih lama!” tanganku masih sibuk menghiasi kertas binder yang hampir penuh, namun seketika ku berhenti menulis ketika telinga ini menangkap sebuah kata dari dosenku. “KARIER.” Mataku pun tertuju pada dinding yang jadi pantulan dari layar LCD. Melihat kata itu, pikiranku pun melayang jauh ke satu tahun yang lalu. Ku mencoba mengingat-ingat apa yang tak aku ingat hingga aku mengingat apa yang seharusnya masih ku ingat.

Definisi Cinta

Jika salah satu buku dwilogi Andrea Hirata berjudul “Cinta dalam Gelas”, maka ku menemui ‘Cinta dalam Kelas’. Mulai dari usiaku yang beranjak belasan tahun hingga kini ku beranjak ke kepala dua. Cinta. Cinta yang tak hanya sekedar cinta, cinta yang berbeda dengan cinta pada orang tua, dan cinta yang begitu membutakan segalanya. Terasa begitu indah bagi mereka yang menikmatinya.
Begitu banyak definisi akan cinta. Bagiku, cinta adalah sesuatu yang membuat kita bahagia dan mengembangkan tawa setiap saat. Tentu saja definisi ini akan berbeda dengan definisi orang lain. Dan mungkin, inilah pendapat para dosenku tentang ‘Apa itu Cinta?’
Kata dosen orkom, “Cinta bukanlah suatu bilangan yang bisa dikonversikan. Cinta adalah segenap rasa yang dirakit secara tepat hingga pikiran tak bisa bekerja dengan optimal.”
Kata dosen SDM, “Cinta adalah organisasi hati yang tak peduli akan struktur organisasinya karena yang terpenting adalah kerjasama untuk sebuah profit, yakni kebahagiaan.”
Kata dosen pemrograman, “Cinta adalah deklarasi dari sebuah program C.I.N.T.A dengan algoritma ; if( x = = ‘I’  && y = = ‘U’) then write I luv U.”
Kata dosen PSI, “Cinta adalah topologi yang digunakan pada jaringan LAN (Love As Needed) dimana cakupannya begitu luas dan semua orang dapat menikmati keberadaannya.”
Kata dosen Bahasa Inggris, “Cinta is love. Love is a great thing. Go to the sea, iIf you lost in it!!”
Kata dosen matematika, “Cinta itu differensial dari fungsi, fungsi dimana konstantanya bernilai ‘2’ dan variabelnya ‘hati’.”
Kata dosen agama, “Cinta adalah rahmatullah.”
Beraneka ragam definisi akan cinta, dan tentu saja sangat berbeda definisi dari para pelaku 'Cinta dalam Kelas'.

3

Iseng


4.30 bukan hanya waktu yang tertunjuk
4.30 adalah ujung rentang waktu sebuah lorong cinta
4.06 adalah saksi buta dari kisah nyata
31 adalah pelaku kejahatan cinta
7

Butuh pendapat kalian....


Ku tatap lekat-lekat selembar kertas itu. Nampak ketakutan ketika ku baca tiap huruf dan kata yang tertera disana. Angka yang menghiasi kertas itu pun cukup menggetarkan hatiku. Ya, itu hanya selembar kertas, tapi begitu berat untuk dipertanggungjawabkan. Lembar Transkip Nilai Semester I. Ini lembar pertama yang ku dapat setelah kurang dari 6 bulan kuliah. Dan hasilnya, cukup membuat ku menitikkan air mata. Tak ku lihat satu pun huruf ‘A’. Huruf pertama dalam urutan abjad itu rasanya enggan bersarang di lembar nilaiku. ‘C’. Sejauh mata memandang hanya itu yang ku lihat. Sesekali terlihat ‘B’. Tak begitu jelas ada berapa karena mataku telah basah. Sekilas berbayang angka 2.40, bukan NIM ku, bukan pula angka favoritku yang sengaja dipampang oleh dosen di lembar nilaiku. Stop. Ini bukan saatnya untuk bercanda.
Di kegalauan itu, handphone ku berdering. Ku gerakkan kepala menengok ke arah HP yang berderingkan lagu Bondan&Fade2Black. Ku lihat layar monitor HP. Ibu sayang calling. Ku biarkan handphone itu berbunyi. Aku belum siap mental untuk menceritakan nilaiku pada ibuku di seberang sana. Apa yang akan dikatakannya ketika mengetahui anak yang ia banggakan berada di posisi pertama, dari bawah.

0

Sesuai kebiasaanku: berkhayal sebelum tidur

HANYA SEBUAH ILUSI

Hari begitu terik. Matahari pun telah meninggi sepenggalah. Ketika burung tak lagi berkicau dengan renyahnya, suasana digantikan oleh teriakan anak-anak XI IPA 1 yang baru saja menghabiskan 2 jam pelajaran untuk bidang matematika. Bel istirahat baru saja berdenting, namun, Fanny, Fierly, dan Fonny buru-buru meninggalkan kelasnya untuk segera mengisi kekosongan perutnya dengan menjejakkan kaki ke arah yang tepat. Kantin. Sesaat Bu Femita, guru matematika mereka keluar dari kelas, mereka sudah tak sabar menyuarakan keinginan mereka di depan ibu kantin. Dengan semangat ‘45 Fanny yang memiliki suara tinggi memesan makanan yang menjadi pesanan harian mereka.

“Bu, mi goreng 3, bu!” teriak Fanny di tengah kerumunan anak-anak yang memiliki tujuan yang sama.

“Iya, iya....!” Bu Fatty, ibu kantin, terlihat begitu kerepotan.

“Fan, lihat Fan! Itu!” Fierly yang berdiri di belakang Fanny menghentikan teriakan Fanny. Ia menunjuk ke arah pasangan cowok-cewek yang menuju kantin di sebelah kantin Bu Fatty.

2

Based on true story dengan banyak perubahan

CINTA KILAT SANG JUARA

Baru 2 bulan anak-anak mengenakan seragam putih abu-abu setelah 3 tahun menggunakan seragam putih biru. Namun, ulangan sudah menanti mereka. Salah satunya Fisika yang menurut anak-anak SMA merupakan pelajaran tersusah dengan guru yang mudah marah.

“Dari 24 anak hanya 5 anak yang dapat nilai di atas KKM. Emy 67, Early 69, Eerie 70, Eras 70 dan tertinggi Enes 72."

Hening. Tak ada suara. Semua anak diam. Bahkan melihat raut muka Bu Ewid, guru fisika kelas X-1 itu, yang penuh amarah, murid-murid X-1 tak ada yang berani bergerak. Mereka seakan paham apabila Bu Ewid, guru yang terkenal disiplin itu sedang marah, maka kelas tidak akan pelajaran karena diisi ceramah dan nasehat dari Bu Ewid.

2

Salah satu cerpen favoritku. . .


SIMBOL PAKU LAMBANG LOVELY
Lambang. Lambang Fernandez nama lengkapnya. Ketenarannya melebihi presenter Indra Herlambang karena dirinya mempunyai tampang yang tak kalah keren dengan Nino Fernandez, artis berwajah Indo yang sering menghiasi layar kaca. Mungkin itulah harapan orang tuanya memberi nama Lambang Fernandez. Lambang pun bangga dengan filosofi dirinya itu dan dia cukup percaya diri untuk mengatakan dirinya keren. Soal ketenaran memang bukan sekedar khayalan belaka. Yah, walau baru di kalangan sekolahnya saja. Bukan hanya karena ketampanannya saja, namun, karena ia juga punya prestasi yang membanggakan orang-orang di sekitarnya. Tak lama lagi ia akan mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Nasional. Tak heran kalau semua cewek rela menurunkan harga diri untuk meminta Lambang menjadi pacarnya. Bahkan ibunda Lambang sempat kebingungan karena banyak sahabatnya ingin menjodohkan putri kesenangannya dengan Lambang.
Akan tetapi, di balik semua cewek-cewek yang rela mengantri untuk Lambang, ada saja cewek yang tak suka padanya. Ia bahkan berani bertingkah usil dan selalu mencari perkara dengan Lambang. Padahal ia bukanlah cewek yang merasa tersaingi atas kepandaian Lambang. Lovly, nama cewek itu. Cantik, populer, anak orang kaya, perfect, itulah tanggapan Lambang untuk Lovly, cewek yang seakan tak pernah kehabisan akal untuk menghabiskan kesabaran Lambang. Hanya satu yang kurang dari dirinya. Otak. Lovly memang tak pernah mengikuti remidial test. Nilainya pun selalu di atas rata-rata. Tapi sayang, ia memperoleh semua nilainya itu dengan cara yang tak benar.
0

Our 4.30

Penuh canda saat menuju 4.30 pm...
waktu yang penuh makna...
kerjasama dan kebersamaan...

Kala 4.06 itu tiba...
semua terlihat berbeda...
raut muka penuh ketakutan...
kecemasan dan kekhawatiran...

Detik-detik menjelang 4.30...
jejak kaki mungil mulai mencari...
mata hitam menjelajah kemana-mana...

0

Saat ini aku merindukan mereka.....

My parents....luv u....
0

cerpen paling baru dengan waktu pembuatan yang lama....

MYSTERY OF “WAY”
“Apa? Jadi aku hanya anak adopsi?”
Yurry tersentak kaget mengetahui kenyataan pahit itu.
“Loe udah tanya belum, siapa orang tua kandung loe?” respon Yolanda saat Yurry menceritakan pada sahabat terpercayanya itu.
“Ya belum lah, kemarin waktu gue tahu itu, gue langsung ngunci diri di kamar!”
“Ohw, jadi Yurry yang selama ini sok tajir itu, ternyata cuma anak adopsi!” teriak Yurra, teman sekelas Yurry yang sekaligus menjadi musuh bebuyutannya, hadir tiba-tiba di hadapan Yurry dan Yolanda. Rupanya sedari tadi Yurra mendengarkan cerita Yurry yang masih menjadi rahasia pribadi.
“Kalau gue anak adopsi terus kenapa? Daripada loe, Anak Haram!” kata Yurry mencoba menenangkan diri.

though it's so complicated, it's about friendship

TRAGEDI SANDAL
Hari berganti. Detik demi detik berlalu. Namun, Azza tetap tak bergeming dari lamunannya. Sebenarnya rasa bosan dan jenuh telah berkecamuk dalam dirinya. Akan tetapi ia tak tahu bagaimana cara tuk meluapkannya. Setelah seminggu yang lalu dinyatakan LULUS dari sebuah SMA terkemuka di kotanya, ia tak tahu apa yang harus ia kerjakan. Tempat kuliah sudah ada. Registrasi dan segala sesuatunya sudah beres. Tinggal menunggu masuk 2 bulan lagi. Ya, walau hanya di sebuah Perguruan Tinggi Swasta, ia bangga karena ia kuliah disana mendapat beasiswa hingga selesai kuliah tanpa harus keluar uang sedikit pun untuk biaya pendidikannya.
“Sepi amat sih? Nggak ada sms dari teman-teman lagi! Pada kemana sih mereka? Huh!” keluh Azza.
Sebenarnya Azza sadar benar kalau teman-temannya sedang disibukkan dengan segudang persiapan untuk menghadapi tes UM Perguruan Tinggi. Tetapi, karena kejemuan yang memuncak dalam dirinya, ia menyalahkan keadaan. Di tengah keadaan itu, tiba-tiba HP nya berbunyi. 1 message received.

Cerpen jaman SMP dengan banyak perubahan

COWOK TOKO BUKU
“Hai, La....!”
Hening. Tenang, tanpa suara.
“HBernard...?!” ulang cewek yang bernama Bony sambil melambaikan tangannya ke muka sahabatnya, Bella.
“Eh, kamu Bon! Ngapain sih? Ngagetin aja!” kata Bella tersentak.
“Yee... kamu dipanggil dari tadi nggak nyahut-nyahut, ngalamun aja. Mikirin aku ya?” tanya Bony iseng.
“Aduh, nggak penting kali mikirin kamu. Mending mikirin dia!” Bella marah, namun dilanjutkan dengan senyum-senyum sendiri.
“Dia. Dia siapa?” tanya Bony penasaran.
“Hihihihi...” Bella masih senyum-senyum aneh.
“Eh, cerita donk!” pinta Bony. “Ehmm, aku tahu. Pasti soal cowok. Ya kan, ya kan?” Bony mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan Bella.
Powered by Blogger.
Back to Top